Halusinasi merupakan suatu bentuk persepsi atau pengalaman indera yang tidak terdapat stimulasi terhadap reseptornya. Halusinasi harus menjadi fokus perhatian oleh tim kesehatan karena apabila halusinasi tidak ditangani secara baik, maka dapat menimbulkan resiko terhadap keamanan diri klien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar.
Sembilan sampai dengan 13% klien skizofrenia mengalami suicide (bunuh diri) (Stuart & Laraia, 2005). Selain itu, 20 – 50% klien skizofrenia melakukan percobaan bunuh diri. Hal tersebutlah yang menyebabkan halusinasi harus ditangani sesegera mungkin karena dampaknya akan menimbulkan masalah yang lebih besar bagi klien maupun orang lain. Salah satu terapi yang direkomendasikan dalam upaya mengatasi halusinasi adalah Cognitive behaviour therapy (Terapi Perilaku Kognitif).
Cognitive behaviour therapy atau Terapi Perilaku Kognitif adalah terapi yang digunakan untuk memodifikasi fungsi berpikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan pada peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, berbuat dan memutuskan kembali sehingga dengan merubah status pikiran dan perasaannya, klien diharapkan dapat merubah tingkah lakunya dari hal negatif menjadi positif. Cognitive behaviour therapy juga memberi manfaat dan efek yang positif dalam menurunkan kejadian kekambuhan pada klien gangguan jiwa, proses pelaksanaannya cognitive behaviour therapy memperkuat keyakinan dan kemampuan klien dalam mengontrol halusinasi yaitu dengan melatih melakukan strategi koping dalam mengontrol halusinasi secara konsisten.
Cognitive Behavior Therapy merupakan perpaduan dari dua pendekatan dalam psikoterapi yaitu cognitive therapy dan behavior therapy. Terapi kognitif memfokuskan pada pikiran, asumsi dan kepercayaan. Terapi kognitif memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan. Terapi kognitif tidak hanya berkaitan dengan positive thinking, tetapi berkaitan pula dengan happy thinking. Sedangkan Terapi tingkah laku membantu membangun hubungan antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Individu belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat.
Tujuan Terapi Perilaku Kognitif
mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.
CBT dapat menjadi terapi yang efektif untuk sejumlah permasalahan:
- Anger management (Manajemen Marah)
- Anxiety and panic attacks
- Child and adolescent problems (masalah-masalah anak dan remaja)
- Chronic fatigue syndrome (Sindrom kronik kelelahan)
- Chronic pain (perasaan sakit kronik)
- Depression
- Drug or alcohol problems (masalah obat-obatan atau alkohol)
- Eating problems (masalah makan)
- General health problems (masalah kesehatan umum)
- Habits, such as facial tics
- Mood swings
- Obsessive-compulsive disorder (penyakit obsessive-compulsive)
- Phobias
- Post-traumatic stress disorder
- Sexual and relationship problems
- Sleep problems
Teknik Cognitive Behavior Therapy
- Manata keyakinan irasional.
- Bibliotherapy, menerima kondisi emosional internal sebagai sesuatu yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan.
- Mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam role play dengan konselor.
- Mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri yang berbeda dalam situasi ril.
- Mengukur perasaan, misalnya dengan mengukur perasaan cemas yang dialami pada saat ini dengan skala 0-100.
- Menghentikan pikiran. Pasien belajar untuk menghentikan pikiran negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif.
- Desentisisasi sistematis. Digantinya respons takut dan cemas dengan respon relaksasi yang telah dipelajari.
- Pelatihan keterampilan sosial.
- Assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan supaya bisa bertindak tegas.
- Penugasan rumah. Memperaktikan perilaku baru dan strategi kognitif antara sesi terapi.
- In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah dengan memasuki situasi tersebut.
Proses Terapi
Terapi cognitive-behavior memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan. Setiap langkah disusun secara sistematis dan terencana.
- Assesmen dan diagnosa (session 1-2)
- Pendekatan kognitif (session 2-3)
- Formulasi status (session 3-5)
- Fokus terapi (session 4-10)
- Intervensi tingkah laku (session 5-7)
- Perubahan core beliefs (session 8-11)
- Pencegahan relapse (session 11-12)
Tahapan Cognitive Behavior Therapy
Masing-masing tahapan terapi kognitif-perilaku dapat dibagi lagi menjadi sesi-sesi yang lebih kecil dengan tujuan yang lebih spesifik sesuai permasalahan atau kondisi pasien saat itu
- Fase Early Engagement: Membangun rapport, psikoedukasi dan penjelasan program terapi, melakukan asesmen awal, meredakan gejala suasana perasaan (mungkin depresi atau kecemasan) yang menyertai halusinasi auditoriknya, membicarakan target terapi pasien untuk pertemuan berikutnya.
- Fase Kedua: Menyusun formulasi kasus berdasarkan asesemen awal, menetapkan target terapi yang lebih spesifik, membuat koneksi pikiran dan perasaan (thoughts and feels) dan relabelling symptoms, meredakan gejala suasana perasaan yang menyertai halusinasi dengan relaksasi, changing activity levels dengan graded exposure.
- Fase Terminasi: Mendiskusikan manfaat terapi yang dapat digunakan pasien secara mandiri dalam kehidupannya sehari-hari, strategi pencegahan kekambuhan (relapse prevention strategies).
Antar sesi terdapat sebuah proses yang disebut jembatan antar-sesi (bridging session). Pada bridging session ini dilakukan dengan me-review target yang sudah dicapai dan tugas rumah apa yang sudah dikerjakan pasien saat akan menuju sesi berikutnya. Saat menerima umpan balik, terapis melakukan reinforcement, bahwa pasien telah berhasil mempelajari sesuatu pada pertemuan sebelumnya. Melalui reinfrocement diharapkan dapat mendorong pasien agar aktif mempraktekkan dalam kegiatan sehari-hari.
Daftar Pustaka :
- Budi Anna Keliat, dkk. (2011). Penurunan Halusinasi pada Klien Jiwa Melalui Cognitive Behaviour Therapy. Jurnal Keperawatan Indonesia
- McLeod, T., Morris, M., Birchwood, M., & Dovey, A. (2006). Cognitive behaviour therapy group work with voices hearers. British Journal of Nursing
- Oemarjoedi. (2003). Pendekatan cognitive behaviour therapy dalam psikoterapi. Jakarta: Penerbit Kreativ Medika
- Smith, L., Natharian, P., Juniper, U., Kingsep, P., & Lim, L. (2003). Cognitive Behaviour therapy for psychotic symptoms: A therapists manual. Perth, Australia: Centre for Clinical Interventions.
- Stuart, G.W., & Laraia, M.T. (2005). Principle and practice of psychiatric nursing (8th Ed.).Philadelphia: Mosby, Inc.
- Beck J.S.. (2011) Cognitive Behavior Therapy: Basic and Beyond, 2 nd Edition. New York: The Guilford Press

