STIGMA MASYARAKAT TERHADAP ORANG GANGGUAN JIWA

Stigma negatif terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di masyarakat masih berupa pemberian label buruk, rasa takut, pengucilan, hingga tindakan pemasungan.

Bentuk Stigma di Masyarakat :

Pemberian Label (Stereotip) 

yaitu menganggap ODGJ sebagai orang "gila" yang berbahaya, menakutkan, atau tidak layak secara fisik. 

Kaitan Spiritual Keliru

yang memandang gangguan jiwa sebagai akibat kurang iman, kerasukan jin, atau karma buruk.

Diskriminasi dan Pengucilan

Menjauhi penderita beserta keluarganya serta membatasi akses pekerjaan dan sosialisasi.

Pemasungan

Menganggap pasung sebagai cara penanganan, padahal hal ini melanggar hak asasi dan memperburuk kondisi pasien. 

ODGJ yang cenderung memiliki stigma internal yang tinggi adalah ODGJ yang masih berusia muda, tidak memiliki pekerjaan dan masih menunjukkan gejala gangguan jiwa seperti sering mondar-mandir, sering berbicara sendiri dan sering berperilaku agresif. 

Kesadaran ODGJ terkait kondisi yang dialami menyebabkan perasaan malu yang berkembang menjadi harga diri rendah yang menahun, yang tentunya akan berdampak buruk bagi proses pemulihan kesehatan mental.

Banyak orang masih memberikan komentar negatif terhadap penderita gangguan mental, dengan menyebut mereka stres, gila, terbelakang, berperilaku aneh, dan cacat yang tidak dapat disembuhkan. Selain itu, masyarakat memandang penderita gangguan jiwa sebagai orang yang menakutkan dan memalukan. Rasa malu memiliki anggota keluarga yang mengidap penyakit jiwa juga menjadi salah satu ciri utama stigma yang berkembang di lingkungan keluarga (Asriani et al., 2020; Ellyana Dwi Farisandy et al., 2023).

Faktor Penyebab Stigma :

Kurangnya Pengetahuan:

Minimnya informasi dan edukasi membuat masyarakat tidak paham tanda serta gejala gangguan jiwa, Faktor Budaya dan Kepercayaan, Pengaruh norma lokal atau pandangan tradisional yang keliru tentang kesehatan mental. 

Kurangnya Layanan:

Belum meratanya fasilitas pelayanan kesehatan mental dan sosialisasi dari pihak berwenang. 

Cara Mengurangi Stigma Edukasi Publik:

Mengadakan penyuluhan dan promosi kesehatan mental secara rutin di lingkungan warga.

Pendekatan Humanis: 

Memperlakukan ODGJ sebagai sesama manusia yang berhak mendapat dukungan, bukan dijauhi.

Pelaporan yang Tepat:

proses stigma membuat korban dan orang lain merasa takut sehingga menyebabkan keluarga, masyarakat, petugas medis dan pasien melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. misalnya seperti memiliki pikiran untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri.

 

Dampak Mitos dan Stigma :

Hambatan dalam mendapatkan penanganan

Rasa malu dan takut dihakimi membuat ODGJ atau keluarga mereka enggan mencari bantuan profesional, sehingga memperlambat proses pemulihan.

Isolasi sosial dan diskriminasi

ODGJ sering dikucilkan dari lingkungan sosial, tidak mendapatkan pendidikan yang layak, mendapat perlakuan kasar dan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Kadang-kadang juga pemasungan dengan berbagai bentuk (dari dikunci di kamar, dirantai atau dikucilkan di rumah tidak layak huni).

Peningkatan beban psikologis

Stigma akan memengaruhi konsep diri ODGJ, menurunkan harga diri, dan memperburuk kondisi mental mereka, sehingga membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial.

Penurunan kualitas hidup dan pemulihan

Stigma yang terus-menerus akan menghambat interaksi sosial dan integrasi ODGJ dengan lingkungan, memperburuk kondisi mereka, dan bagi yang sudah mendapat penanganan dengan baik akan menyebabkan kekambuhan.

Pemerintah berupaya mengatasi stigma ini dengan memberikan layanan, nasihat, dan pengobatan komprehensif berdasarkan layanan kesehatan dasar (puskesmas), bahkan kepada kelompok paling rentan sekalipun. 

Pemerintah juga menyelenggarakan program pelatihan bagi seluruh tenaga medis, termasuk relawan desa, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa dan mengurangi stigma, dan mereka nantinya akan diintegrasikan ke dalam layanan regional. Dengan upaya dan kepedulian bersama, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan menghilangkan stigma terhadap ODGJ, sehingga mereka bisa mendapatkan dukungan dan perawatan yang mereka butuhkan untuk mencapai pemulihan yang optimal.

 

(https://journal3.um.ac.id/index.php/fik/article/download/5721/3660/10643), 

(https://wolgitj.science.web.id/wolgitj/article/download/71/65/860), 

(https://unair.ac.id/stigma-internal-pada-orang-dengan-gangguan-jiwa/)

(https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1511/efek-stigma-masyarakat-ter...),

(https://repository.umgo.ac.id/970/1/JURNAL%20Renalda%20Rengkung%201%20%2...

(https://repositorynew.poltekkes-mks.ac.id/873/)

Penulis: 
Ansep Safa'at, AMK
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

30/09/2026 | Riza pahlepi putrawansyah
30/09/2026 | Sutrisno, S,Kep, Ners
30/09/2026 | SILAHUDDIN, S.Kep., Ners
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori