SERING MERASA CEMAS, APAKAH MENGALAMI ANXIETY DISORDER ?

Rasa cemas, khawatir atau takut merupakan respon emosi dan biologis manusiawi untuk melindungi dirinya ketika merasa dalam bahaya. hal tersebut dianggap normal jika tidak berlebihan dalam menanggapinya. Namun, pada akhir abad ke-19 mulai dikenal adanya gangguan kecemasan yang berlebih yang disebut anxiety disorder sebagai kategori medis dan psikiatri modern.

Anxiety disorder atau gangguan kecemasan adalah suatu kondisi dimana seseorang merasakan takut, khawatir atau cemas secara berlebihan, terus-menerus bahkan sulit untuk dikendalikan hingga dapat menganggu kehidupan sehari-hari penderitanya. Lalu, seperti apa batasan ketika kita merasa cemas normal dan batasan cemas yang sudah digolongan menjadi suatu gangguan ?

Secara umum, biasanya gejala yang dialami meliputi gejala mental dan gejala fisik. Gejala mental seperti kesulitan untuk berkonsentrasi, overthinking, mudah merasa gelisah, dan merasa tegang. Sedangkan gejala fisik seperti jantung yang berdebar-debar, sesak nafas, keringat dingin, tangan gematar, keringat berlebih dan gangguan lambung sampai merasakan mual.

Gangguan kecemasan biasanya dialami pada masa perkembangan dewasa awal yaitu pada usia 30 tahun. Saat kondisi ini terjadi,  biasanya penderita tidak dapat menjelaskan apa yang sedang Ia rasakan dan mengapa ia merasakan kecemasan yang berlebih. Jika hal ini terus berulang, maka dapat menganggu aktivitas sehari-hari penderita.

Lalu bagaimana caranya untuk membedakan rasa takut dan kecemasan ? bukankah keduanya mirip atau nyaris sama dan sulit untuk dibedakan ?

Rasa takut diartikan sebagai perasaan sadar yang dipicu oleh ancaman atau bahaya yang akan datang, sedangkan kecemasan melibatkan antisipasi terhadap ancaman atau bahaya nyata atau yang dibayangkan dimasa depan. Baik rasa takut maupun kecemasan memfasilitasi kelangsungan hidup dan seringkali bersifat adaktif. Dengan demikian, banyak rasa takut dan kecemasan merupakan kejadian normatif dimasa kanak-kanak misalnya cemas terhadap orang asing atau tampil didepan umum atau pada masa dewasa misalnya cemas selama stress atau perubahan dalan hidup.

Ketakutan dan kecemasan dapat memerlukan perhatian klinis ketika tidak proporsional dengan ancaman, parah dan berkepanjangan, atau mengganggu fungsi normal. Ancaman yang dirasakan meliputi rangsangan lingkungan (misalnya, situasi sosial atau risiko kesehatan), yang memberi sinyal kepada individu bahwa mereka mungkin dalam bahaya. Sinyal ini juga mencakup rangsangan interoseptif (misalnya, jantung berdebar atau sesak napas). Namun, banyak gejala-gejala yang harus dipenuhi untuk mengkatogorikan seseorang benar mengalami anxiety disorder  berdasarkan buku Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).

Secara umum, penyebab gangguan kecemasan hingga kini belum dapat dipastikan. Namun ada beberapa faktof yang dapat memicunya yaitu :

a)Aktivitas berlebihan pada area otak yang terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku seseroang.

b)Ketidakseimbangan zat kimia otak yaitu serotonin dan noradrenalin yang terlibat dalam mengatur dan juga mengendalikan suasana hati seseorang.

c)Faktor genetik yang mungkin bisa menjadi pemicu ketika terdapat riwayat keluarga yang juga dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan.

d)Kejadian trauma yang dapat menimbulkan stres berlebih.

e)Mengalami sakit dalam jangka panjang.

f)Riwayat kecanduan alkohol atau narkoba serta zat-zat terlarang.

 

Selain itu, anxiety disorder juga memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

 

a)Gangguan panik, yang biasanya ditandai dengan serangan panik berulang dan mendadak.

b)Fobia.

c)Gangguan stres pasca trauma (PTSD)

d)Gangguan kecemasan sosial.

Namun secara psikologis, gejala anxiety disorder berupa :

a)Khawatri yang berlebihan yang penderitnya merasakan cemas hampir setiap hari bahkan mereka juga tidak dapat mengingat kapan mereka merasakan rileks.

b)Pikiran negatif yang berulang. Penderita biasanya saat merasakan kecemasan yang sudah terseleraikan, maka akan muncul kecemasan lain lagi.

c)Kesulitan dalam berkonsentrasi. Ketika pikiran mereka terus dipenuhi dengan rasa cemas, maka akan sulit untuk konsentrasi memikirkan hal lain diluar ketakutannya.

d)Gangguan tidur. Penderitanya akan merasakan kesulitan untuk tidur, sering terbangun malam hari bahkan merasa tidak segar saat bangun tidur meski sudah cukup tidur.

Apa yang harus dilakukan jika mengalami gangguan kecemasan?

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh sebagai langkah pengobatan gangguan kecemasan. Obat-obatan dan terapi perilaku kognitif (CBT) menjadi dua metode yang paling umum untuk mengatasi anxiety. Dokter bisa mengombinasikan keduanya sesuai dengan kebutuhan pengidap. 

1. Obat

Dokter dapat meresepkan beberapa jenis obat untuk mengurangi gejala. Jenis obat tersebut antara lain: 

• Antidepresan

Dokter akan memberikan obat antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) untuk membantu meningkatkan kadar serotonin pada otak.

Sementara itu, dokter akan memberikan obat golongan serotonin dan noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI) untuk membantu meningkatkan kadar serotonik dan noradrenaline pada otak.

Ada beberapa jenis obat antidepresan yang biasa diresepkan oleh dokter. Baca di artikel ini: “Kapan Seseorang Perlu Konsumsi Antidepresan?“.

• Pregabalin

Pregabalin menjadi obat yang dokter gunakan untuk menangani nyeri neuropatik dan kejang untuk kondisi epilepsi.

Namun, obat ini juga mampu meringankan gejala gangguan kecemasan umum. 

• Benzodiazepine

Selanjutnya, obat benzodiazepine yang termasuk dalam kelompok obat penenang. 

Biasanya, dokter akan meresepkan obat ini pada pengidap gangguan kecemasan umum yang parah.

Tujuannya untuk membantu meringankan gejala yang muncul dalam waktu yang lebih singkat. 

2. Terapi perilaku kognitif (CBT)

Opsi selanjutnya adalah terapi perilaku kognitif atau CBT. Fungsinya untuk membantu pengidap mengenali, serta mengubah pemikiran dan tingkah laku yang memicu kecemasan.

Terapi ini membantu pengidap tidak lagi memiliki pikiran negatif dan bisa berpikir rasional. 

Setidaknya, perlu waktu sekitar 1 jam setiap minggunya untuk melakukan 1 sesi terapi CBT selama kurang lebih 3-4 bulan.

Ketika menjalani terapi, psikolog atau psikiater akan mengajarkan metode relaksasi supaya pengidap dapat lebih tenang saat menghadapi kondisi yang bisa memicu munculnya rasa cemas. 

3. Exposure therapy

Terapi ini dilakukan dengan memaparkan pengidap secara bertahap pada situasi yang mereka takuti untuk membantu mengurangi reaksi cemas.

Tujuannya untuk membantu pengidap dalam membangun toleransi terhadap pemicu kecemasan secara terkendali.

4. Perubahan gaya hidup

Selain itu, perubahan gaya hidup sebagai bagian dari pengelolaan gejala juga dapat kamu lakukan, seperti: 

Tetap aktif secara fisik. Buat rutinitas agar selalu aktif secara fisik setiap hari dalam seminggu. Olahraga adalah pereda stres yang ampuh dan dapat meningkatkan suasana hati sekaligus menjaga kesehatan tubuh. 

Jadikan tidur sebagai prioritas. Pengidap gangguan kecemasan umum perlu memastikan bahwa dirinya memiliki tidur yang cukup dan nyenyak. Jika tidak bisa tidur nyenyak, temui dokter untuk meminta saran medis yang tepat.

Lakukan teknik relaksasi. Teknik visualisasi, meditasi dan yoga merupakan contoh teknik relaksasi yang dapat meredakan kecemasan.

Konsumsi makanan sehat. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan ikan dapat mengurangi tingkat kecemasan pikiran. Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Hindari alkohol dan obat rekreasional. Sebab, zat ini dapat memperburuk kecemasan.

Berhenti merokok dan mengonsumsi kopi. Baik nikotin dan kafein dapat memperburuk kecemasan. 

 

 

 

 

 

 

SUMBER :

https://www.alodokter.com/gangguan-kecemasan-umum

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9248771/#ABS1

https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-kecemasan-umum?srsltid=AfmBOo...

https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3288/kriteria-seseorang-yang-me...

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9248771/

Penulis: 
MARINI, S.Kep., Ners
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

30/09/2026 | Riza pahlepi putrawansyah
30/09/2026 | Sutrisno, S,Kep, Ners
30/09/2026 | SILAHUDDIN, S.Kep., Ners
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori