Peningkatan gangguan jiwa yang terjadi saat ini akan menimbulkan masalah baru yang disebabkan ketidakmampuan dan gejala gejala yang ditimbulkan oleh penderita, terlihat dari data rekam medis pada tahun 2016 terdapat kasus halusinasi 1479 orang, dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan kasus halusinasi di rumah sakit jiwa sebayak 1637 orang. Berdasarkan hal ini dilakukan survei awal dengan observasi terhadap 7 keluarga yang datang berobat ke rumah sakit jiwa prov.kepulauan bangka belitung khususnya keluarga yang mengalami gangguan hallusinasi dengan beberapa pertanyaan yaitu:
1. Pengetahuan keluarga tantang halusinasi pendengaran,
2.Sikap keluarga tentang halusinasi pendengaran,
3.Tindakan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami halusinasi pendengaran.
Lalu dilakukan wawancara terhadap ke 7 keluarga tersebut dengan cara wawancara yaitu tentang:
1. Pengetahuan keluarga tentang halusinasi pendengaran
Dari hasil wawancara mendalam dengan 7 keluarga dengan anggota keluarga yang mengalamai gangguan halusinasi pendengaran dipoliklinik Rumah sakit jiwa Provinsi Kepulauan bangka Belitung sebagian besar informan mengetahui tentang pengertian halusinasi pendengaran dengan menyebutkan dengar suara-suara yang tidak jelas, tertawa sendiri, respon lambat dan suara bisik-bisikan, menurut literatur seorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gajala-gejala yang khas yaitu: Menyengir atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara, gerakan mata abnormal, respon verbalyang lambat, diam bertindak seolah olah dipenuhi suatu yang mengasyikan, namun keluarga belum mengetahui tentang cara penanganan. Dalam hal ini dibutuhkan peran perawat untuk melakukan penyuluhan kepada keluarga mengenai halusinasi pendengaran.
2. Sikap keluarga tentang halusinasi pendengaran
Sikap suatu respon tertutup setiap individu terhadap rangsangan atau stimulus tertentu yang melibatkan beberapa faktor yaitu pendapat, emosional yang bersangkutan. Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap keluarga diketahui bahwa sebagian besar keluarga memiliki sikap yang baik terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan halusinasi pendengaran keluarga berpendapat apabila ada anggota keluarga yang mengalami halusinasi pendengaran mereka meneria, menghargai dan bertanggung jawab
3. Tindakan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami halusinasi pendengaran
Berdasarkan hasil dari wawncara mendalam sebagian besar informan/keluarga melakukan tindakan yang baik, dengan memberi obat secara rutin, tidak melakukan pemasungan dan pengasingan. Tapi sebagian kecil masih melakukan pemasungan dan tidak memberi obat secara rutin dengan beberapa alasan yaitu sebagian menyatakan kalau tidak dipasung dapat mengganggu orang lain dan berjalan sampai berhari hari tidak pulang, dan apabila dia lapar takutnya mengambil milik orang lain hal inilah yang mengakibatkan keluarga untuk melakukan pemasungan terhadap keluarga, dan selanjutnya tidak minum obat secara rutin diakibatkan obat nya habis tempat mengambil obat jauh dan mengeluarkan biaya yang besar untuk mengambil obat ke rumah sakit dan terkadang pasiennya tidak mau minum obat walaupun sudah dipaksa, dan hal ini juga dibenarkan oleh informan sekunder yang menyatakan tidak semua pasien yang minum obat secara teratur. Keluarga belum memahami pentingnya minum obat san obatecara rutin dengan hal ini perlu diakan home care oleh petugas baik yang dari rumah sakit jiwa provinsi kepulauan bangka belitung dan petugas dari puskesmas. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar keluarga mengetahui tentang halusinasi pendengaran meliputi pengertian, tanda dan gejala dan penangannya halusinasi pendengaran, semua keluarga bersikap baik terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan halusinasi pendengaran yaitu dengan menerima dan bertanggung jawab, sebagian besar keluarga bertindak baik seperti tindakan pemberian obat dan tidak melakukan pemasungan dan pengasingan terhadap keluarga yang mengalami gangguan halusinasi pendengaran. Bagi rumah sakit jiwa provinsi kepulauan bangka belitung diharapkan Rumah sakit jiwa dapat memberikan edukasi secara lengkap kepada keluarga khususnya keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang mengalami gangguan halusinasi pendengaran. Dan diharpkan keluarga pasien dapat menerima dan bertanggung jawab terhadap penyakit dan kesembuhan pasien dan keluarga selalu mendampingi pasien dalam mendapatkan pengobatan.
Daftar Pustaka
Budiono, dkk (2015). Konsep dasar keperawatan.Bandung: bumi medika
Dion, yohanes (2013) keluarga konsep dan praktek Jakarta: Nuha Medika
Hasdianah (2010) dasar-dasar riset keperawatan. Yogyakarta: trans info medika
Kementerian kesehatan Republik indonesia (2016). Peran keluarga dukungan kesehatan jiwa masyarakat 2016. Jakarta

