KEKAMBUHAN PADA PENGGUNAAN NAPZA DAN CARA PENCEGAHANNYA

Kecanduan merupakan suatu perilaku yang memberikan dampak negatif terhadap aspek biologi, psikologis, sosial dan spiritual. Kecanduan akan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) adalah suatu masalah kesehatan yang membutuhkan intervensi primer dan sekunde (Nikmanesh, Baluchi & Motlagh, 2017). Intervensi primer dalam pencegahan awal yaitu pemberian edukasi atau informasi mengenai dampak finansial, biologis dan psikologis akibat penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan selanjutnya (sekunder) meliputi tes terapi lanjutan dapat dimulai untuk mencegah kekambuhan.

 

Beberapa teori menjelaskan konsep kecanduan NAPZA dan kekambuhannya. Teori Tahapan (Stage Theory) dari Prochaska & DiClemente (1983, 1986) mengembangkan teori tahapan perubahan perilaku untuk memahami proses berhenti merokok dan kambuh. Lima tahapan perubahan menurut model ini adalah: (1) Prakontemplasi, (2) Kontemplasi, (3) Tindakan, (4) Pemeliharaan dan (5) Kambuh. Kemudian, berdasarkan kelima tahapan ini, sepuluh proses perubahan perilaku juga dikembangkan. Teori Pembelajaran Sosial: Teori pembelajaran sosial dari Bandura (1982) memberikan dasar yang baik untuk menilai determinan sosial atau situasional dari kambuh. Teori pembelajaran sosial menekankan hubungan antara respons koping, kambuh, dan reaksi kognitif terhadap isyarat. Menurut teori kognitif sosial (Bandura, 1989), efikasi diri memengaruhi motivasi, emosi, dan perilaku manusia. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh representasi tujuan dan hasil yang diharapkan. Banyak penelitian juga telah

 

dilakukan untuk melihat hubungan antara lokus kendali dan kambuh, kambuh dan efikasi diri (Velicer et al., 1990; Johnson et al., 1991). Teori ini memberikan implikasi yang baik dalam kecanduan narkoba dan kekambuhan.

 

Kecanduan NAPZA berhubungan dengan peningkatan angka pada masalah kesehatan fisik, seperti penyakit kardiovaskular dan hati; masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi; penurunan tingkat produktivitas, serta peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan dan sosial (Lim et al, 2012; Nut et al dkk.2010; Rehm et al, 2009). Problem penting dalam penanganan kecanduan NAPZA adalah tingginya angka kekambuhan penggunaan narkoba selama masa pantang (Wikler, 1973; O'Brien, 2005).

 

Masa pantang berarti seseorang tidak menggunakan zat NAPZA untuk tujuan rekreasional. Ini adalah tujuan utama dalam pengobatan penyalahgunaan zat. Walaupun telah dilakukan penelitian praklinis dan klinis secara intensif selama bertahun-tahun mengenai kekambuhan penggunaan narkoba (Kalivas & O'Brien, 2008; Sinha dkk., 2011), tingkat kekambuhan tetap tidak berubah selama 4 dekade terakhir (Hunt dkk., 1971; Sinha, 2011). Kekambuhan biasanya dikenal dalam beberapa terminologi, salah satunya relaps. Relaps secara umum adalah pecandu menggunakan kembali NAPZA jenis semula atau jenis lainnya setelah menjalani program perawatan dan rehabilitasi (Mahmood, 2006). Menurut American Society of Addiction Medicines (2020), relaps terjadi dalam 90 hari pertama (3 bulan) setelah perawatan. Karena keinginan yang tinggi dalam 90 hari pertama, kemungkinan kambuh menjadi maksimum. Setelah itu, tingkat pemulihan meningkat. Pada beberapa orang, relaps bahkan terjadi dalam 1 tahun. Relaps hanya terlihat pada sangat sedikit orang setelah 5 tahun pemulihan (Sau et al., 2013). Menurut McKay (1999), beberapa prediktor secara konsisten memprediksi relaps antara lain: keinginan, emosi negatif, berkurangnya komitmen untuk pantang, rendahnya tingkat efikasi diri, dan keinginan untuk menyerah setelah penyimpangan, masalah interpersonal, dan kurangnya upaya penanggulangan. Jadi relaps adalah suatu bentuk perilaku yang belum terbebas dari penggunaan NAPZA setelah mencoba menjalani program pemulihan.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekambuhan terjadi. Menurut Marlatt dan Gordon (1985), ada 3 situasi yang berkaitan dengan kekambuhan, yaitu emosi negatif, mengalami konflik interpersonal, dan menghadapi tekanan sosial dari keadaan lingkungan sekitarnya. Berikut ini adalah beberapa alasan untuk kambuh: (a) Tidak menindaklanjuti pengobatan dengan benar, (b) Tidak mengambil pengobatan yang tepat setelah detoksifikasi, (c) Kurangnya

 

perawatan khusus sesuai dengan kebutuhan orang tersebut, (d) Rumah dan lingkungan sosial yang tidak menguntungkan atau tidak mendukung, (e) Kurangnya perawatan untuk gangguan berikut, (f) Kurangnya pemeliharaan setelah perawatan (Singh, 2021). Menurut Hanson dkk (2021), tiga jenis rangsangan menciptakan keinginan dalam diri orang tersebut, yang meningkatkan kemungkinan kambuh: (a) Priming: Paparan tidak sadar terhadap obat yang disalahgunakan juga menghasilkan keinginan yang kuat dan menyebabkan kambuh, (b) Isyarat lingkungan: Kelanjutan penyalahgunaan juga dapat terjadi jika ada tanda-tanda (orang, tempat atau benda dan sebagainya) yang terkait dengan obat yang disalahgunakan di lingkungan, (c) Stres: Stres akut dan kronis mempengaruhi kambuh.

 

 

 

Beberapa cara dapat dilakukan untuk pencegahan kekambuhan. Salah satu cara mencegah kekambuhan yaitu meningkatkan efikasi diri. Efikasi diri adalah keyakinan bahwa individu percaya diri mampu melakukan perilaku positif dengan menahan diri untuk menggunakan NAPZA. Efikasi diri meningkat dengan mengidentifikasi aspek positif dalam diri individu, menilai dan menetapkan serta melatih aspek atau kemampuan positif individu tersebut sehingga harga diri meningkat. Cara berikutnya adalah mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya yang positif. Seseorang yang berada di lingkungan sebayanya dan memiliki kebiasaan perilaku atau aktifitas sosial yang positif maka dapat mencegah individu untuk kambuh kembali. Dukungan keluarga sangat penting dalam mencegah kekambuhan. Hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, tekanan yang minimal, dapat mencegah kekambuhan. Orang tua tentunya memiliki peran dan tanggung jawab penting dalam menjaga kedisiplinan anak. Orang tua perlu menunjukkan nilai moral yang cukup tinggi untuk membimbing anak- anaknya. Dukungan sosial dari masyarakat/komunitas dapat diberikan lewat integrasi ke dalam masyarakat dan program spiritualitas untuk mengurangi konsekuensi negatif dari tekanan pembentukan yang dihadapi selama proses pemulihan. Masyarakat diharapkan memberikan dukungan sosial dan fisik karena masyarakat memberikan dukungan tanpa syarat dan menyediakan pekerjaan jika diperlukan bagi pengguna NAPZA agar mereka memiliki kepercayaan diri untuk terus berubah dan akhirnya berhenti menggunakan NAPZA.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

American Society of Addiction Medicine (2020). ASAM criteria of relapse in drug addiction. Retrieved May 17, 2023, from https://www.asam.org/asam criteria/about-the-asam- criteria/evidence-base

 

Bandura, A. (1982). Self-efficacy mechanism in human agency. American Psychologist, 37(2), 122.

 

Bandura, A. (1989). Human agency in social cognitive theory. American Psychologist, 44(9), 1175.

 

Hanson, J. L., Williams, A. V., Bangasser, D. A., & Peña, C. J. (2021). Impact of early life stress on reward circuit function and regulation. Frontiers in Psychiatry, 12, 744690

 

Hunt WA, Barnett LW, Branch LG (1971) Relapse rates in addiction pro grams. J Clin Psychol 27:455–456. CrossRef Medline

 

Johnson, E. E., Nora, R. M., Tan, B., & Bustos, N. (1991). Comparison of two locus of control scales in predicting relapse in an alcoholic population. Perceptual and Motor Skills, 72(1), 43- 50.

 

Kalivas PW, O’Brien C (2008) Drugaddictionasapathologyofstagedneu roplasticity. Neuropsychopharmacology 33:166–180. CrossRef Medline

 

Lim, S.S., Vos, T., Flaxman, A.D. et al. (2012) A comparative risk assessment of burden of disease and injury attributable to 67 risk factors and risk factor clusters in 21 regions, 1990– 2010: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2010. Lancet 380, 2224– 2260.

 

G. A. Marlatt, J. R. Gardon, Relapse Prevention: Maintenance Strategies in the treatment of Addictive Behaviors (New York: Guilford Press, 1985)

 

Mckay, J. R. (1999). Studies of factors in relapse to alcohol, drug and nicotine use: A critical review of methodologies and findings. Journal of Studies on Alcohol, 60(4), 566-576.

 

N. M. Mahmood, (2006). Peranan Institusi Keluarga dalam pencegahan gejala sosial dan penagihan dadah. In Azlin Hilma, H., Fatimah Zaily, A.R., Rusimah, S., dan Yusmarhaini (Ed.), Isu-isu dan Pendidikan Kerja Sosial (Sintok, UUM, 2006)

 

Nikmanesh, Z., Baluchi, M. H., & Motlagh, A. A. P. (2017). The role of self-efficacy beliefs and social support on the prediction of addiction relapse. International Journal of High Risk Behaviors and Addiction, 6(1), e21209.

 

Nutt, D.J., King, L.A. & Phillips, L.D. (2010) Drug harms in the UK: a multicriteria decision analysis. Lancet 376, 1558–1565.

 

O’Brien CP (2005). Anticravingmedicationsforrelapse prevention: a possi ble new class of psychoactive medications. Am J Psychiatry 162:1423 1431. CrossRef Medline

 

Prochaska, J. O., & DiClemente, C. C. (1983). Stages and processes of self-change of smoking: toward an integrative model of change. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 51(3), 390.

 

Prochaska, J. O., & DiClemente, C. C. (1986). Toward a comprehensive model of change. In

W. R. Miller and N. Heather (Eds.), Treating addictive behaviors: Processes of change (pp. 3- 27). New York: Plenum.

 

Rehm,J., Mathers, C., Popova, S., Thavorncharoensap, M., Teerawat tananon, Y. & Patra, J. (2009) Global burden of disease and injury and economic cost attributable to alcohol use and alcohol-use dis orders. Lancet 373, 2223–2233

 

Singh, A. (2021) Relapse among substance abusers a study in selected drug de addiction and rehabilitation centres in West Bengals. Thesis

 

Sinha R (2011). New findings on biological factors predicting addiction re lapse vulnerability. Curr Psychiatry Rep 13:398–405. CrossRef Medline

 

Sau, M., Mukherjee, A., Manna, N., & Sanyal, S. (2013). Sociodemographic and substance use correlates of repeated relapse among patients presenting for relapse treatment at an addiction treatment centre in Kolkata, India. African Health Sciences, 13(3), 791-799.

 

Velicer, W. F., Diclemente, C. C., Rossi, J. S., & Prochaska, J. O. (1990). Relapse situations and self-efficacy: An integrative model. Addictive behaviors, 15(3), 271-283.

 

Wikler A (1973). Dynamics of drug dependence. Implications of a condi tioning theory for research and treatment. Arch Gen Psychiatry 28:611 616. CrossRef Medline

Penulis: 
Morinica, S.Kep., Ners
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori