Masih lekat dalam ingatkan kita saat terjadinya demam boneka labubu yang ramai di dunia media sosial dan kalangan artis sehingga banyak orang menganggap perlu memiliki boneka tersebut dan rela mengantri panjang dan membayar mahal untuk memiliki boneka tersebut. Atau fenomena coklat berasal dari dubai yang ramai berseliweran di salah sosial sehingga banyak yang ingin mencoba rela membayar mahal bahkan bepergian ketempat asal coklat tersebut untuk mencoba secara langsung. Dua cerita diatas hanya sedikit gambaran fenomena”takut tertinggal” yang terjadi dalam kehidupan. Tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga pada kalangan dewasa dimana seseorang tidak mau tertinggal ataupun terlewatkan akan suatu hal-hal baru yang sedang tren baik itu terkait barang-barang baru, fashion, perhiasan, acara atapun konten yang sedang ramai di media sosial dan lain sebagainya. Kondisi ini mencetuskan perasaan khawatir ketika tidak melakukan hal yang sama.
Fomo atau fear of missing out adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena “takut tertinggal“, yang merupakan kondisi psikologis dimana seseorang merasa cemas atau takut melewatkan suatu kejadian, pengalaman, atau informasi yang sedang terjadi di sekitar mereka, terutama yang terlihat di media sosial.
Istilah fomo mulai dikenalkan pada tahun 2004 dan digunakan secara luas pada tahun 2010 untuk menggambarkan fenomena yang teramati disitus jejaring sosial. Istilah ini kemudian masuk pada kamus oxford pada tahun 2013 dan didefinisikan sebagai adanya kekhawatiran yang terjadi karena tidak mengalami pengalaman menyenangkan yang dialami oleh oranglain. Fomo ditandai dengan keinginan terus-menerus untuk tetap terhubung dengan aktivitas oranglain. Przybylski (Sharma dan Gupta 2021) menjelaskan fenomena fomo menggunakan social determinat theory dimana fomo terjadi karena adanya keadaan emosional negatif yang dihasilkan dari kebutuhan keterkaitan sosial yang tidak terpenuhi. Fomo sendiri mencakup dua proses yaitu persepsi tentang ketertinggalan dan diikuti dengan perilaku kompulsif untuk mempertahankan koneksi sosial tersebut.
Ketika seseorang memiliki pikiran dan persepsi telah melewatkan sesuatu, perasaan cemas, gugup, khawatir muncul. Hal terasebut menimbulkan perasaan dan sensasi tidak nyaman sehingga untuk menghindari ketidaknyamanan tersebut, seseorang terdorong untuk melakukan perilaku yang memastikan mereka terus-menerus mendapatkan informasi terbaru atau perilaku kompulsi (berulang) seperti mengecek kembali hal yang sedang trend di media sosial agar tampak selalu tahu atau tampak keren. Siklus pikiran, perasaan dan perilaku cemas ini berkontribusi terhadap persepsi menyimpang tentang diri sendiri dan persepsi tentang lingkungan sosial mereka. Yang pada akhirnya menyebabkan perasaan sedih kecewa yang dapat berkontribusi pada perilaku maladaptif seperti penghindaran sosial, kesulitan tidur, dan fungsi tubuh yang buruk, yang dapat mengakibatkan perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, dan depresi.
Beberapa korelasi yang kurang baik terkait fenomena fomo terhadap kesehatan mental juga ditemukan dalam penelitian, salah satunya ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh khairina, Rahmawati & Indriyani 2023 bahwa ketergantungan pada media sosial di kalangan usia 19-25 tahun memunculkan fear of missing out (FoMO), yang menciptakan rasa cemas, perbandingan diri, dan ketakutan ketinggalan informasi, dengan dampak berupa perasaan kesepian dan tekanan psikologis. Penelitian lain yang dilakukan oleh Puspitasari, dkk 2025 terhadap mahasiswa juga mendapatkan hasil bahwa FoMO secara signifikan meningkatkan kecemasan, khususnya ketika mahasiswa merasa tidak terhubung dengan aktivitas di media sosial. Hal ini menjadi suatu kondisi memprihatinkan mengingat dampak negatif yang ditimbulkan tidak main-main.
Menghadapi fenomena fomo yang terjadi saat ini, diperlukan penanganan serius untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah dengan menjadikan keluarga sebagai pertahanan pertama. Keluarga adalah lingkungan pertama yang dijumpai oleh individu dan seharusnya menjadi tempat dimana individu dapat menemukan kenyamanan dan sebagai tempat pulang ketika individu menemui masalah. Keluarga yang berfungsi dengan baik dapat memberikan rasa nyaman serta penerimaan tanpa syarat. Adanya penerimaan tanpa syarat menjadikan anggota keluarga tidak mencari validasi dari luar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang berdampak negative sepertinya halnya fomo terhadap hal-hal baru. Selain itu komunikasi yang terbuka serta adanya nilai dan identitas diri yang kuat ikut sangat berpengaruh. Pembentukan identitas seorang individu dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga membentuk pola pikir, perilaku, dan keyakinan yang akan membawa seseorang menuju pencapaian diri yang lebih matang. Saling terlibat sebagai anggota keluarga menjadikan masing-masing memiliki peran dan menimbulkan rasa keberhargaan dalam keluarga itu sendiri. Tidak kalah penting pengawasan, serta pembatasan dalam pengunaan media sosial tetap diperlukan. Edukasi diperlukan bagi setiap anggota keluarga agar bijak dalam bermedia sosial serta mengajarkan literasi digital termasuk cara menyaring informasi dan menjaga privasi. Beberapa hal tersebut diatas dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya fenomena fomo namun hal tersebut tidak benti disitu saja akan banyak sekali fenomena lain yang berpangaruh seiring makin berkembangnya teknologi sehingga setiap keluarga, anggota keluarga, individu harus menyiapkan dirinya dengan matang agar tidak mudah terbawa arus yang merugikan.
Penulis : Mita Octarina
Referensi;
Citra Audi Puspitasari1*, De Ajeng Alwin2, Muhamad Kamaludin3, Mochamad Reza Pratama4, Sekar Aulia Azahra5. 2025. Pengaruh Fenomena Fear Of Missing Out (Fomo) Terhadap Tingkat Kecemasan Dan Kepuasan Hidup Mahasiswa Gen Z Di Media Sosial. JIIC: JURNAL INTELEK INSAN CENDIKIA
https://jicnusantara.com/index.php/jiic Vol : 2 No: 1, Januari 2025 E-ISSN : 3047-7824
Nadia Khairina*, Dyah Septi Ruli Rahmawati, Friska Indriyani.2024. Jurnal Flourishing, 4(7), 2024, 296–303 ISSN: 2797-9865 (online) DOI: 10.17977/10.17977/um070v4i72024p296-303
Gupta M, Sharma A. Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World J Clin Cases 2021; 9(19): 4881-4889
https://camaliclinic.com/am-i-struggling-with-fomo/diakses 22/10/25

