WAHAM ATAU DELUSI

Mungkin kamu sedikit asing dengan kata delusi, tapi tidak dengan kata waham. Dalam pergaulan masa kini, kata waham adalah kata yang sering digunakan bahkan dalam percakpan sehari-hari, ketika ada teman yang berceloteh tentang pencapaian yang berlebihan. Lalu apa sebenarnya waham?

Waham atau delusi adalah keyakinan seseorang akan sesuatu hal yang salah namun dipertahankan secara kuat meskipun berlawanan dengan kenyataan dan bukti-bukti yang ada. Misalnya seseorang yang meyakini dirinya adalah orang yang terkenal atau artis. Tidak hanya itu, terkadang seseorang yang menderita waham meyakini bahwa salah satu organ tubuhnya hilang atau diambil tanpa adanya luka atau prosedur khusus.

Waham merupakan gejala gangguan mental serius. Pasien dengan waham sulit membedakan kenyataan dan khayalan. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, pengidap delusi atau waham mungkin akan terlihat seperti orang-orang pada umumnya. Banyak diantara mereka yang bisa bersosialisasi dengan baik. Namun, saat kepercayaannya akan sesuatu muncul, mereka akan sibuk dengan delusinya sehingga perilaku mereka berubah, seperti mudah marah, atau berbicara secara terus-menerus.

 

Penyebab Waham

Secara pasti penyebab waham tidak dapat diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya waham.

1.Faktor Genetik

Memiliki orang tua atau keluarga kandung yang menderita waham atau pun menderita penyakit kejiwaan lain dapat meningkatkan faktor resiko penerita. 

2.Faktor Kelainan pada Otak

Ketidakseimbangan neurotransmiter (bahan kimia di dalam otak) dipercaya menjadi salah satu penyebab waham. Pada pasien-pasien waham ditemukan aktivitas dopamin yang tidak normal. Bisa akibat stroke atau cedera otak berat, atau penyakit lainnya seperti Demensia dan Parkinson.

3.Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan seperti penderita yang memiliki kecenderungan antisosial dan kecemburuan sosial bisa menjadi pencetus terjadinya waham. Selain itu, jika kamu dekat dengan penderita waham (di luar faktor genetik), kamu juga beresiko menderita waham.

4.Trauma

Trauma akan kejadian buruk yang pernah terjadi di masa lalu juga bisa menjadi penyebab waham. Akan tetapi biasanya penderita dengan faktor trauma tidak serta merta didiagnosis waham. Biasanya diagnosis awal pada penderita tersebut adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Penderita akan kambuh saat mengingat kejadian buruk yang membuatnya trauma.

Selain faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas, koping penderita yang kurang sehat saat menghadapi masalah juga bisa menyebabkan waham, diantaranya ;

a.Memberikan reaksi emosional yang berlebihan saat mendapat kritik, penolakan, atau penilaian negatif dari orang lain

b.Memiliki kebiasaan lari dari masalah, atau bahkan cenderung menghindari orang-orang yang bermaslah dengannya

c.Memiliki kecenderungan menuduh orang lain atas kesalahan yang dilakukannya

d.Kecanduan alkohol dan penggunanaan zat-zat terlarang

 

Tanda dan Gejala Waham

Sekilas kita tidak dapat membedakan penderita waham dengan orang-orang pada umumnya di sekitar kita. Namun, ada beberapa tanda dan gejala yang bisa kita lihat pada penderita waham diantaranya ;

-Memiliki pemikiran dan keyakinan yang tidak nyata, tidak logis, dan salah

-Gelisah saat keyakinannya disangkal

-Merasa dirinya dieksploitasi

-Cenderung berpikir bahwa segala seuatu melibatkan dirinya

-Agresif dan gampang marah

-Cenderung menyimpan dendam

-Cenderung melihat ancaman yang nyata sebagai situasi yang tidak berbahaya

 

Tanda gejala waham juga bisa dilihat dari tanda khas berdasarkan jenisnya. Berikut adalah jenis waham berdasarkan tanda khas yang menyertainya ;

1.Waham Kebesaran (grandiose)

Waham kebesaran merupakan waham yang penderitanya meyakini bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Contohnya penderita yakin bahwa dirinya raja, penguasa alam semesta, atau presiden.

2.Waham Agama

Waham agama, seperti namanya tentu erat kaitannya dengan penderita yang memiliki keyakinan yang sangat kuat terkait agamanya. Contohnya penderita yakin bahwa dirinya nabi, atau bahkan Tuhan.

3.Waham Curiga atau Waham Kejar

Penderita waham curiga atau waham kejar meyakini bahwa dia selalu diawasi oleh orang lain yang berniat jahat, sehingga penderita akan mudah mencurigai orang-orang disekitarnya. Bahkan hal tersebut bisa membuat penderita berbuat sesuatu yang melanggar hukum, melakukan kekerasan pada orang-orang yang ia curigai.

4.Waham Cemburu 

Berbeda dengan waham curiga, waham cemburu membuat penderita mudah cemburu dengan pasangannya. Mereka meyakini pasangannya menghianatinya meskipun tanpa bukti-bukti yang kongkret. Pada kasus yang ekstrem waham cemburu dapat memicu penderita melukai pasangannya karena merasa dikhianati.

5.Waham Somatik

Pada waham somatik, penderita meyakini bahwa ia memiliki masalah fisik atau penyakit tertentu. Contohnya penderita meyakini bahwa ada parasit di tubuhnya yang menyebabkan infeksi sehingga menimbulkan bau badan. 

6.Waham Nihilistik

Waham nihilistik adalah penderita meyakini bahwa dirinya sudah meninggal, dan atau menganggap orang-orang disekitarnya juga sudah meninggal seperti dirinya. Hal ini menyebabkan penderita tidak lagi peduli dengan hal-hal disekitarnya.

7.Erotomania

Penderita meyakini bahwa ada orang terkenal atau penting yang mencintainya. Hal ini sering kali membuat penderita melakukan penguntitan dan berusaha melakukan kontak dengan dengan orang tersebut. 

 

Selain jenis-jenis waham yang sudah disebutkan di atas, ada juga waham campuran yang terdiri dari beberapa waham sekaligus. Seperti pada pasien dengan skizofrenia paranoid misalnya, pasien mungkin mengalami waham kebesaran dan waham curiga sekaligus. Sebagai contoh, penderita meyakini dirinya adalah seorang penguasa dan ada orang-orang jahat yang berusaha mencelakainya.

 

Diagnosis Waham

Sejauh ini belum ada pemeriksaan medis khusus yang bisa mendeteksi waham. Setidaknya penderita menunjukkan tanda gejala waham selama kurang lebih satu bulan. 

Meskipun demikian, pemeriksaan fisik mungkin akan dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang untuk memastikan apakah waham yang dialami penderita berkaitan dengan kondisi kesehatannya. Seperti tes urin atau darah jika gejala waham dicurigai dipicu oleh penggunaan obat-obatan tertentu, atau CT scan/MRI jika dicurigai kondisi waham diakibatkan adanya masalah di otak.

Jika tidak ada masalah kesehatan khusus yang berpengaruh pada penderita, biasanya akan dilakukan wawancara khusus/ tes kuesioner untuk mengetahui kondisi mental yang dapat menyebabkan waham, seperti kuesioner untuk penyakit alzheimer atau demensia. Namun sebelumnya kita juga bisa mengajukan beberpa pertanyaan baik kepada penderita atau pun keluarga sebelum menindak lanjuti keluhan penderita, diantaranya ;

-Hal-hal yang diyakini oleh penderita

-Reaksi penderita ketika keyakinannya disangkal

-Berapa lama gejala waham berlangsung

-Kebiasaaan atau gejala lainnya yang mungkin terjadi sebagai penyerta waham

-Penyakit yang pernah diderita penderita atau keluarganya

-Kebiasaaan penderita sehari-hari

 

Pengobatan Waham

Setiap penderita tentunya memerlukan perawatan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Biasanya menggabungkan antara psikoterapi dan obat-obatan dapat meningkatkan keberhasilan dalam pengobatan.

1.Psikoterapi 

Psikoterapi membantu penderita untuk bisa berorientasi dengan baik bahwa keyakinannya selama ini adalah sesuatu hal yang salah atau tidak nyata. Penanganan ini juga membantu mengurangi pikiran atau perilaku negatif yang diakibatkan oleh waham.

Psikoterapi yang biasanya digunakan diantaranya ;

oCognitive behavioral therapy (CBT), terapi ini membantu penderita mengenali bahwa pikiran dan perilakunya salah sehingga dapat mengatasinya dengan baik saat pemicunya muncul.

oFamily-confused therapy, terapi ini tidak hanya berfokus pada penderita tetapi juga melibatkan keluarga dalam edukasi, komunikasi, dan pemecahan masalah terkait waham.

oAcceptent and commitment therapy (ACT), terapi mengalihkan perlaku negatif yang menyebabkan waham dan dan menerapkan cara-cara yang positif.

2.Pemberian Obat-obatan

Pada kasus-kasus tertentu, penderita waham juga memerlukan obat-obtan. Obat-obatan bertujuan agar penderita dapat mengontrol gejalanya dan dapat menjalani aktivitas  dengan baik. Selain itu, obat-obatan juga membantu penderita mengurangi tingkat keparahannya. 

 

Beberapa obat yang biasanya diberikan adalah;

oAntipsikotik 

Obat-obatan antipsikotik yang biasanya diberikan adalah ; chlorpromazine, haloperidol, trifluoperazine, risperidone, clozapine, olanzapine

oObat antideperesan 

Biasanya digunakan untuk mengatasi suasana hati yang menyertai waham, diantaranya ; doxepin, protiptyline, escitalopram, fluoxetin

oObat antiansietas

Obat ini digunakan untuk mengurangi rasa cemas atau gelisah pada penderita, diantaranya ; alprazola, diazepam, lorazepam

Komplikasi Waham

Waham sendiri merupakan penyakit mental yang serius, jika tidak ditangani dengan tepat tentu akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih kompleks pada penderitanya. Komplikasi yang bisa timbul diantaranya ;

-Gangguan kecemasan

-Depresi 

-Pikiran ataupun percobaan menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri

-Cedera berat, akibat melukai diri-sendiri atau pun melukai orang lain

-Dikucilkan masyarakat

-Tuntutan hukum akibat perbuatan tidak menyenangkan pada orang lain

 

Pencegahan Waham

Banyaknya faktor yang dapat menyebabkan penderita menderita waham, sehingga belum ada metode khusus yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya waham. Meskipun begitu, ada beberapa cara terbaik yang bisa kita lakukan sebagai tindakan preventif, seperti menerapkan gaya hidup dan koping stres yang sehat. 

Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental ;

-Melakukan teknik relaksasi saat stres, seperti meditasi, mendengarkan musik, atau teknik pernafasan dalam

-Berolahraga rutin setiap hari, seperti yoga atau jalan-jalan di tempat-tempat yang disukai

-Mengkonsumsi makanan sehat, seperti buah dan sayur, serta menghindari makanan tinggi lemak, gula, dan kafein

-Membiasakan diri membatasi bermain gawai secara berlebihan

-Melakukan journaling sebagai cara meluapkan perasaan dan harapan 

-Menjalin hubungan baik dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar

-Bergabung dengan kegiatan sosial

-Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan penyalahgunaan NAPZA

-Berkonsultasi dengan profesional di bidangnya jika menemukan tanda gejala awal waham sebagai langkah deteksi dini

 

 

 

Referensi ;

Waham - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan - Alodokter

https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/waham-salah-satu-tanda-peny...

Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry: behavioral sciences/clinical psychiatry. Eleventh edition. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2015.

Joseph SM, Siddiqui W. Delusional Disorder. StatPearls Publishing. 2022 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539855/

Bourgeois JA. Delusional Disorder. Medscape. 2022 https://emedicine.medscape.com/article/292991-overview#a5

WHO. The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders. Geneva: World Health Organization; 2007.

APA. Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington VA: American Psychiatric Publishing; 2013

 

 

 

Penulis: 
Ulfa Undari, S.Kep., Ners
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori