Penyalahgunaan napza di Indonesia sudah berlangsung sangat lama dan semakin meningkat, Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Ali Djohardi menyebut 80 persen masyarakat Indonesia mengetahui jenis dan bahaya narkoba. Namun, anehnya, tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia masih tinggi, karena sebagian besar orang yang menggunakan narkoba akibat kurangnya perhatian dari keluarga. Misalnya, kedua orangtuanya terlalu sibuk bekerja hingga si anak merasa tidak diperdulikan dan melakukan pencarian jati diri di luar rumah dengan bergaul kepada teman sebaya yang sayangnya menggunakan narkoba. Imbasnya, tentu, tingkah laku si anak jadi tidak terkendali.
Oleh karena itu, jika si anak sudah kecanduan dengan narkoba, maka terapi keluarga menjadi salah satu program yang tepat untuk menyembuhkannya.Pertanyaannya,apa itu terapi keluarga? Berdasarkan rilis resmi BNN, terapi keluarga atau family therapy merupakan sebuah kumpulan pendekatan terapi yang menekankan pada assesmen dan intervensi keluarga. Hubungan yang saling terkait di antara anggota keluarga jadi unsur penting dalam ketergantungan narkoba dan terapinya.
Nantinya, para anggota diberdayakan untuk mengidentifikasi masalah serta menentukan sendiri penyelesaian dari masalah tersebut. Komponen esensial dari terapi keluarga meliputi sesi pendidikan, konseling dan terapi kelompok. Keluarga adalah sistem, dan dalam sebuah sistem tiap bagian harus saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Keterlibatan keluarga dalam rehabilitasi ketergantungan narkoba merupakan suatu keharusan. Pendekatan terapi keluarga berbeda dengan terapi konvensional. Perbedaannya terletak pada fokus terapi. Pada praktek terapi keluarga yang konvensional, fokus terapi adalah pada unit keluarga.
Lalu, apa tujuan dari terapi keluarga?
- Menyediakan informasi tentang adiksi dan dampak terhadap sistem keluarga.
- Menciptakan lingkungan yang aman dan dapat diterima oleh keluarga untuk membahas masalah yang dihadapi.
- Membantu klien dan kelurganya agar dapat lebih terbuka dalam ekspresi bermacam perasaan, seperti malu, takut, dan sedih.
- Membimbing klien dan keluarganya untuk keluar dari perilaku disfungsional.
- Memfasilitasi klien dan keluarganya untuk menyelesaikan masalah dan memiliki tujuan yang realistis.
- Membantu klien dan keluarganya dalam komunikasi sehingga mereka dapat berinteraksi dengan cara lebih konstruktif dan saling membantu.
Sasaran terapi keluarga:
- Menggunakan kekuatan keluarga dan seluruh sumber daya untuk membantu atau mengembangkan berbagai cara agar dapat hidup bebas dari penyalahgunaan narkoba.
- Memperbaiki dampak ketergantungan narkoba pada klien dan keluarga. Dalam terapi keluarga fokus terapi adalah keluarga dan para individu di antara ruang lingkup sistem keluarga tersebut.
Tahapan pemulihan keluarga dan faktor yang menunjang pemulihan:
- Mencapai abstinen atau keadaan bebas narkoba: Sistem dalam keluarga tidak dalam keseimbangan namun masih memungkinkan ada perubahan positif.
- Penyesuaian dengan pencapaian abstinen atau keadaan bebas narkoba: Keluarga berfungsi dengan mengembangkan dan stabilitas dari sistem yang baru terbentuk.
- Pemeliharaan abstinen atau keadaan bebas narkoba jangka panjang: Keluarga harus seimbang dan stabil dengan gaya hidup yang baru dan lebih sehat.
Agar dapat tercapainya terapi, maka anggota keluarga pun harus berubah. terlepas dari pulih atau tidaknya seorang pengguna, melalui terapi keluarga sistem keluarga yang tidak efektif dapat dirubah dan dengan berubahnya sistem dalam keluarga diharapkan lingkungan keluarga berubah menjadi sebuah lingkungan yang sehat bagi semua. Khususnya bagi pengguna dalam proses pemulihan dari penyalahgunaan narkoba.
Daftar Pustaka
Alatas H. Madiyono B. Penanggulangan Narkoba : Meningkatkan Peran Keluarga dan Lingkungan. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2003

