SCREEN TIME DAPAT MEMICU SPEECH DELAY PADA ANAK

Penggunaan gadget saat ini kerap dijadikan senjata para orang tua untuk menenangkan si kecil yang sedang rewel. Orang tua sekarang mengambil jalan mudah dan tidak mau pusing dengan memberikan gadget pada si kecil maka si kecil akan diam dan asik dengan gadgetnya. Padahal tanpa disadari lebih dalam pemberian gadget pada anak adalah mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru yang jauh lebih merugikan si kecil dan orang tua kedepannya. Hal ini akan berdampak pada tumbuh kembang anak, diantaranya adalah speech delay.

SPEECH DELAY

Speech delay adalah kondisi keterlambatan bicara dan bahasa yang tidak sesuai dengan usia anak. 

Kondisi  speech delay dapat ditandai dengan kemampuan anak-anak dalam menyampaikan isi pikirannya, namun ucapannya masih sulit dipahami, seperti hanya mengucapkan huruf “A” setiap kali dia meminta sesuatu.

Selain itu, speech delay juga terjadi saat anak mampu mengucapkan kata-kata, namun tidak dapat menggabungkannya menjadi sebuah isi pikiran yang lengkap dan bisa dipahami, seperti mengatakan sebuah kalimat tetapi dengan kata-kata yang tidak sesuai misalnya “minta susu” yang diucapkan hanya “ta u”.

Beberapa orang tua beranggapan bahwa speech delay akan menghilang sendiri seiring dengan bertambahnya usia anak. Mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut harus segera ditangani.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa speech delay diduga dialami oleh 5-8 persen anak-anak usia prasekolah. 

Speech delay dapat diperngaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah;

1. Gangguan pertumbuhan fisik

2. Infeksi telinga

3. Adanya masalah pada mulut atau pendengaran

4. Screen time (menurut The Hanen Center)

SCREEN TIME DAN SPEECH DELAY

Perlu diperhatikan bahwa anak-anak belajar berbicara dan berkomunikasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu ketika masa tumbuh kembangnya diberikan screen time yang berlebihan dengan menonton tayangan di televisi ataupun gadget dapat menyebabkan kemampuan berbahasa ekspresif anak tidak berkembang dengan baik. 

Penyebabnya adalah ketika anak diberikan screen time secara berlebihan, anak-anak hanya akan mendapatkan stimulasi dari satu arah saja. Sedangkan, anak-anak membutuhkan interaksi komunikasi dua arah untuk perkembangan berbahasa dan berbicaranya. 

Orang tua harus tahu bahwa pada tahun pertama kehidupan anak, otak reseptif anak sedang belajar bahasa baru dan membangun jalur komunikasi. Maka, ketika jalurnya tidak terbangun dengan baik akibat dari stimulasi satu arah yang diberikan orang tua akan memicu keterlambatan anak-anak dalam kemampuan berbahasa dan berbicaranya. 

American Academy of Pediatrics melakukan sebuah studi di salah satu rumah sakit di Kanada dengan mengamati kurang lebih 900 anak-anak usia enam bulan dan dua tahun. Mereka menemukan bahwa balita yang sering menggunakan gadget cenderung mengalami speech delay atau keterlambatan kemampuan bahas ekspresif. Kemampuan anak-anak dalam mengucapkan kata-kata dan kalimat juga lebih lambat. Selain itu, peneliti juga menemukan fakta bahwa setiap tambahan 30 menit screen time dalam sehari maka resiko terhadap speech delay meningkat sebanyak 49 persen. 

Dalam penelitian lain yang dipublikasikan oleh Journal of Pediatrics juga pernah melakukan survei pada lebih dari 1.000 orangtua yang memiliki anak-anak usia di bawah dua tahun. Ditemukan bahwa balita yang sering menonton video menjadi lebih sedikit dalam pengucapan kata-kata. Bahkan, bayi usia 8-16 bulan yang diberikan satu jam lebih lama screen time ditemukan pengucapan kata-katanya lebih sedikit yakni enam hingga delapan kata lebih sedikit dari anak-anak seusianya. 

PEMBATASAN SCREEN TIME PADA ANAK

Di era serba digitalisasi ini tidak ada salahnya mengenalkan gadget atau memberikan screen time pada anak adalah bukan sesuatu hal yang tidak diperbolehkan. Hanya saja sebagai orang tua harus lebih bijaksana dalam memberikan screen time kepada anak-anak, seperti memberikan screen time dengan pembatasan waktu dan jadwal yang sudah ditentukan. 

Canadian Pediatric Society merekomendasikan anak usia 2-5 tahun untuk dapat diberikan screen time di bawah satu jam per hari. 

American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan untuk para orang tua pada anak usia 2-5 tahun dalam pemberian screen time dengan memperhatikan hal-hal berikut;

1. Pilih tayangan video dengan konten yang baik dan berkualitas

2. Dampingi anak-anak saat menonton

3. Ajak anak-anak berbicara dan berinteraksi sembari menonton video

Perlu diketahui juga bahwa tidak dianjurkan memberikan anak bayi ( usia kurang dari 12 tahun) tontonan video. Orang tua sebaiknya membantu proses tumbuh kembang anak dengan lebih banyak melakukan interaksi dengan anak-anak.

Interaksi sehari-hari seperti bercerita dapat dilakukan saat memandikan, makan, bertamasya, atau sebelum tidur.

 

 

American Academy of Pediatrics (2017). 2022. Handheld Screen Time Linked with Speech Delays in Young Children.

The Hanen Center. 2022. iPad = I Don’t Talk: The Effects of Young Children’s Screen Time

The Journal of Pediatrics. 2022. Associations between Media Viewing and Language Development in Children Under Age 2 Years.

Speech and Language Kids. 2022. Screen Time and Speech/Language Delays

Penulis: 
Efa Zulli Nursekha, AMK
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori