PENYEBAB HEALTHCARE ASSOCIATED INFECTION (HAIs) PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Infeksi Nosokomial atau infeksi rumah sakit,  yang saat ini disebut sebagai Healthcare Associated Infection (HAIs) yaitu: Infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, dimana pada saat masuk tidak  ada infeksi atau tidak masa inkubasi, termasuk infeksi didapat di rumah sakit tapi muncul setelah pulang karena pekerjaan petugas. Infeksi nosokomial adalah istilah yang merujuk pada suatu infeksi yang berkembang di lingkungan rumah sakit.

Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang khusus merawat pasien dengan gangguan kejiwaan untuk rawat inap.  Maka dari itu Hasil Hais yang didapat berbeda dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang merawat pasien dengan gangguan fisik. Di RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hais yang ditemukan oleh Tim PPI adalah berupa penyakit kulit pada pasien selama dilakukan perawatan di RSJD.

Salah satu program dari pencegahan dan pengendalian Infeksi (PPI) adalah Surveilans. Pelaksanaan program yang efektif dapat mengurangi tingkat Infeksi penyakit kulit, untuk itulah Surveilans merupakan salah satu aktifitas yang sangat penting dalam program PPI.

Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulangan Bangka Belitung Tim PPi setiap hari memeriksa Hais pada pasien Rawat Inap yang ada di Ruangan, untuk di IGD tim PPI RSJD juga memeriksa atau mengadakan Surveilance pada pasien yang datang mau rawat inap, tim memeriksa apakah ada penyakit kulit yang dibawa oleh pasien, karena untuk membedakan apakah itu Hais atau memang sudah bawaan pasien dari rumah dan juga Tim PPI memeriksa apakah juga ada penyakit Infeksi yang lain pada pasien sehingga bisa mengantisipasi untuk tidak menularkan pada pasien lain selama di Rawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Program PPI yang utama dan efektif di Rumah Sakit yaitu dengan mengelola data dan informasi penting termasuk Surveilans, mengatur dan merekomendasikan kebijakan prosedur dan intervensi untuk memutus transmisi penularan penyakit.

Menurut data dari hasil surveilans PPI RSJD  pada bulan Januari sampai dengan Maret tahun 2018 kejadian Hais/Infeksi pada pasien Rawat Inap adalah: Untuk Angka kejadian Scabies ada peningkatan dari bulan Pebruari sampai Maret, pada bulan Januari 0% ,bulan Pebruari 2,63% dan pada bulan Maret 14,86%. Angka kejadian Kandidiasis pada bulan Januari 0%, bulan Pebruari 2,63% dan bulan Maret 10,81%. Angka kejadian Tinea Pedis pada bulan Januari 0%, bulan Februari 6,58% dan bulan Maret 10,81%. Angka kejadian Pedikulosis pada Januari 7,61% dan mengalami penurunan pada bulan Pebruari 5,26% dan meningkat lagi pada bulan Maret 8,11%. Angka kejadian Cimex Lectularius pada bulan Februari 1,32% dan bulan Maret 2,70%. Angka kejadian tersebut diambil pada data pasien yang ada di Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Bangka Belitung pada tujuh Ruang Rawat Inap yaitu Ruang Walet, Ruang Gelatik, Ruang Kutilang, Ruang Elang Ruang Merpati, Ruang Rajawali dan Ruang Rehabilitasi NAPZA.

Dari angka kejadian Hais atau Infeksi penyakit kulit pada pasien Rawat Inap RSJD maka tim PPI menganalisis penyebab meningkatnya angka kejadian Hais dari bulan Pebruari ke bulan Maret. Adapun penyebab dari meningkatnya angka kejadian Hais /infeksi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Belum optimalnya screening awal sewaktu pasien masuk rawat inap sehingga kemungkinan adanya data yang tercampur antara Hais dengan penyakit yang sudah didapat dari rumah sebelum di rawat Inap

2. Adanya kekosongan persediaan alat mandi terutama sabun pada bulan Pebruari

3. Masih kurangnya edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada pasien di ruang rawat inap

4. Penggunaan  alat mandi dan handuk bersama pada pasien

5. Penanganan linen masih belum optimal, linen belum dipilah, belum disetrika dan penjemuran masih di ruang terbuka

6. Sulitnya untuk mengedukasi pasien dengan gangguan jiwa yang sudah terkena Hais .

7. Fungsi IPCLN belum Maksimal

8. Lambatnya dalam pelaporan kepada dokter untuk mendapatkan terapi

9. Permukaan kasur tidak pernah didesinfeksi

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Data Komite PPI tahun 2018

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2011. Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan  Kesehatan lainnya, Jakarta Kepmenkes RI

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2011.  Pedoman Surveilance Infeksi, Jakarta Kepmenkes RI

4. Kementerian Kesehatan RI 2011. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumak Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya- Jakarta: Kesehatan RI Cetakan ketiga

Penulis: 
H.Eriyanto,S.Kep
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori