PENATALAKSANAAN ANAK AUTIS

Autisme diambil dari kata Yunani “Autos” berarti diri sendiri, dan “Isme”  berarti suatu aliran. Berarti suatu faham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Sindroma autisme juga disebut kelainan tumbuh kembang yang pertama kali dideskripsikan oleh Leo Kanner, Psikiater dari Universitas John Hopkins, As. Penyakit ini adalah gangguan perilaku pada anak dimana anak asik tenggelam dalam dunianya sendiri. Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks,  disebabkan adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar. Kelainan autistik dicirikan oleh menarik diri anak ke dalam dirinya dan ke dalam dunia fantasi yang dibuatnya sendiri

Macam-macam gangguan perkembangan pada anak autis antara lain:

  1. Gangguan Komunikasi
  • Terlambat berbicara atau sama sekali belum dapat berbicara
  • Sangat sulit untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain
  • Komunikasi dengan gerakan/bahasa tubuh
  • Mengulang kata-katahasanya sendiri
  • Tidak memahami pembicaraan orang lain
  • Meracau dengan bahasanya sendiri
  1. Gangguan Interaksi
  • Kurang Responsif terhadap isyarat sosial
  • Tidak mau menatap mata
  • Apabila dipanggil tidak menengok
  • Tidak mau bermain dengn teman sebaya, senang menyendiri
  • Tidak mampu mengekpresikan rasa senang/keinginannya secara spontan
  • Tidak ada Empati
  1. Gangguan Perilaku
  • Cuek terhadap lingkungan
  • Asyik dengan dunianya sendiri
  • Semaunya sendiri tidak mau diatur
  • Perilaku tidak terarah (Mondar-mandir, lari-lari, Manjat-manjat, berputar-putar, Lompat-lompat, ngepak-ngepak, teriak-teriak)
  • Agresif atau penyakiti dirinya sendiri
  • Tantrum (mengamuk) oleh sebab  Yang tidak jelas
  • Melamun atau bengong, terpukau pada benda-benda berputar atau benda yang bergerak
  • Kelekatan terhadap benda-benda tertentu
  • Perilaku yang ritualistik
  1. Gangguan Emosi
  • Tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab
  • Emosi tidak terkendali
  • Rasa takut yang tidak wajar
  1. Gangguan Persepsi Sensori
  • Menjilat-jilat benda
  • Mencium-cium benda
  • Menutup telinga bila mendengar  suara keras dengan nada tertentu
  • Tak suka memakai baju dengan bahan kasar
  • Sangat tahan terhadap sakit

Penyebab Autisme

Penyebab utama belum diketahui dengan pasti. Autisme diduga disebabkan gangguan neurologi pada susunan saraf pusat: 1) Faktor Genetik, 2) Gangguan pertumbuhan sel otak pada janin, 3) Ganguan pencernaan, 4)Keracunan logam berat, 5) Gangguan Auto-Imun

Faktor Predisposisi

Teori Psikodinamika, bahwa anak autistik terfiksasi pada fase perkembangan simbiotik,  anak tidak mencapai hubungan simbotik dengan ibu ataupun tidak membedakan diri dengan ibu, perkembangan ego mengalami penundaan, anak tidak berkomunikasi atau membentuk hubungan.

Teori Biologik, adanya gangguan otak atau  abnormalitas, pada otak dapat terjadi pada sistem retikuler, otak bagian tengah, atau pada hemisfer otak sebelah kiri, mengingat otak pada bayi masih elastis maka hampir dapat dipastikan bahwa kerusakan sentral atau bilateral dapat mengakibatkan terjadinya Autisme. Ketidak seimbangan sistem biokimia, gangguan metabolisme, meningitis, epelepsi dan retardasi mental pada anak

Teori Biologik, mengidentivikasi faktor-faktor biologis berikut sebagai penunjang pada predisposisi terhadap  kelainan ini , Rubella pada ibu fenil keton uria  tak teratasi, ensefalitis anoksia selama kelahiran, tuberous sklerosis, sindrom fragilis X.

Teori Dinamika Keluarga. Pola interaksi dini telah dianjurkan karena penting pada kecendrungan autisme pada bayi. Seorang ibu kabur dan jauh dengan sedikit kasih sayang, emosional  pada anak, kurangnya stimulasi dan kehilangan hal-hal yang berhubungan dengan ibu telah dilibatkan dlam hal ini.

Faktor Presdipitasi

Orang tua dengan anak autistik biasanya mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, kepribadiannya bercorak obsesif, tidak memiliki kehangatan, interaksi orang tua dengan anak yang menyimpang serta adanya stres yang berat pada awal kehidupannya, sehingga anak kurang mendapat stimulasi dalam proses tumbuh kembang.

Perilaku

Anak dengan autisme biasanya kurang responsif terhadap orang lain, cendrung menarik diri dari kontak sosial juga disertai dengan  gangguan komunikasi verbal dam non verbal yang berat (echolia). Anak biasanya menunjukan respon bizar terhadap lingkungan seperti : stereotipik, bergoyang-goyang jari, memukul-mukul badannya, membentur-benturkan kepala, tidak disertai halusinasi, waham serta  inkoherensi. Prilaku ini terlihat sebelum usia 30 bulan. Gangguan hubungan interaksi timbal balik pada anak austistik yang disebabkan karena tidak adanya kesadaran terhdap prasaan orang lain , tidak mampu berusaha untuk mendapatkan rasa nyaman pada saat sedang distress, tidak dapat meniru terhadap orang lain, tidak dapat bermain secara sosial dan terdapat gangguan kemampuan untuk membina hubungan dengan anak seusianya. Pada bayi autistik tidak berespon pada penglihatan dan suara orang lain, tidak ada senyum sosial, tidak ada perasaan senang bila berada didekat ibunya, tidak mau berusaha menanggapi seseorang  secara fisik, serta tidak ada reaksi terhadap orang  lain. Prilaku ini sering disalah artikan “ bayi yang penurut” tidak ada kegiatan berimajinasi, volume dan ada suara abnormal, isi permbicaraan sering terbalik, terjadi echolalia serta menggunakan bahasa sendiri.

Mekanisma Kopimg, (1) menarik diri: terjadi dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membinan hubungan secara terbuka dengan orang lain, (2) regresi : suatu mekanisme pertahanan ego yang paling mendasar yang digunakan oleh seseorang yang psikosis. Prilaku seperti anak-anak dan tehnik-tehnik yang dirasa aman untuk dirinya digunakan.

Simtomatologi (Data Subjektif dan Objtif)

  1. Kegagalan untuk membentuk hubungan antar pribadi, dicirikan sifat tdika responsif pada orang. Kurangnya kontak mata dan sifat responsif pada wajah pengabadian atau keengganan terhadap kasih sayang dan kontak untuk mengembangkan kerjasama dalam bermain dan persahabatan.
  2. Kelainan pada komunikasi (verbal dan non verbal), dicirikan tidak adanya bahasa atau jika dikembangkan seriing adanya struktur gramatik yang tidak matang, penggunaan kata-kata yang tidak benar,ketidakmampuan menggunakan batasan-batasan abstrak ekspresi non verbal yang menyertai bisa tidak sesuai.
  3. Respon kacau terhadap lingkungan, dicirikan perlawanan atau reaksi-reaksi perilaku estrim tehadap peristiwa-peristiwa kecil, kasih sayang yang mengganggu pikiran yang tidak normal terhadap benda-benda aneh.
  4. Rasa tertarik yang ekstrim terhadap benda-benda yang bergerak (misalnya kipas angin, kereta api), minat khusus terhadap musik, bermain dengan air.
  5. Tuntutan yang tidak beralasan terhadap keharusan untuk mengikuti kebiasaan sehari-hari dengan rincian yang tepat (misalnya: menuntut keharusan untuk mengikuti rute yang sama apabila pergi belanja)
  6. Kesusahan yang terlihat terhadap  perubahan-perubahan pada aspek-aspek yang sepele dari lingkungan (misalnya: apabila vas bunga dipindahkan dari tempat biasanya)
  7. Gerakan-gerakan tubuh stereotipik (misalnya: menjentikkan tangan atau memilih milih tangan, berputar-putar, gerakan tubuh yang kompleks)

Diagnosa dan Intervensi

  1. Resiki terhadap  mutilasi diri

Tujuan kita: pasien tidak akan melukai dirinya, pasien mendemostrasikan perilaku-perilaku alternatif (misalnya: memulai interaksi antara diri dengan perawat), Intervensi (1) tindakan untuk melindungi anak apabila perilaku-perilaku mutilatif diri seperti memukul-mukul, membentur-benturkan kepala atau perilaku-perilaku histeris lainnya menjadi nyata, (2) Helm dapat digunakan untuk melindungi terhadap tindakan-tindakan memukul kepala, sarung tangan untuk mencegah menarik-narik rambut dan pemberian bantalan yang sesuai untuk melindungi estremitas terluka selama terjadinya gerakan-gerakan histeris, (3) coba menentukan jika perilaku-perilaku mutilatif diri terjadi sebagai respon terhadap peningkatan ansietas dan jika terjadi terhadap apa ansietas tersebut dapat dihubungkan, Rasionalnya Perilaku perilaku mutilatif dapat dicegah jika penyebabnya dapat ditentukan, (4) Bekerja pada dasar satu perawat untuksatu anak, rasionalnya untuk membentuk kepercayaan, (5) Tawarkan diri kepada anak selama waktu-waktu meningkatnya ansietas rasionalnya: dalam upaya menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman

  1. Kerusakan Interaksi sosial

Tujuan pasien akan memulai interaksi sosial (fisik, verbal, non verbal) , pasien akan mendemostrasikan kepercayaanpada seorang pemberi perawatan sebagaimana ditandai adanya sifat responsif pada wajah dan kontak mata pada waktu yg ditentukan tergantung pada tingkat beratnya penyimpangan perilaku, Intervensi (1) interaksi dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan, (2) berikan anak-anak pada benda yang dikenalnya (mainan kesukaannya, selimut) karna hal ini dapat memberikan rasa aman, (3) sampaikan sikap yang hangat, dukungan dan kebersediaan ketika pasien berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya karna hal ini dapat meningkatkan hubungan saling percaya, (4) melakukan interaksi mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, dengan sentuhan, senyuman, pelukan.

  1. Kerusakan Komunikasi Verbal

Tujuan: pasien akan membentuk kepercayaandengan orang lain pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan, (1) pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain, (2) pesan pesan non verbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal, (3) pasien memulai interaksi verbal dan non verbal dengan orang lain.

  1. Gangguan Identitas pribadi

Tujuan: pasien akan membentuk identitas ego, pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh dari diri sendiri dan bagian-bagian tubuh pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan, Intervensi: (1) fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak, konsistensi dari interaksi pasien dengan perawat meningkatkan pembentukan data kepercayaan, (2) Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri seperti berpakainan, makan dll, (3) Tingkatkan kontak fisik secara bertahap menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan pasien dengan perawat, (4) Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dan batasan-batasan tubuh dengan menggunakan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak

Penatalaksanaan Autisme

Penatalaksanaan Autisme bukan untuk menyembuhkan  gangguan  tidak dapat disembuhkan (not curable) namun bisa diterapi (treable), maksudnya adalah kelainan yang ada di Otak diperbaiki, namun gejala-gejala yang ada pada penderita Autisme tidak dapat dikurangi

Terapi perilaku: dengan memodifikasi perilaku yang spesifik diharapkan dan membuang perilaku yang bermasalah, dalam suatu penelitian dikatakan dengan terapi yang intensif selama 1-2 tahun, anak yang masih muda ini dapat menghasilkan peningkatan IQ dan fungsi adaptasinya lebih tinggi dibanding kelompok-kelompok anak yang tidak memperoleh terapi yang intensif, agresivitas yang cukup banyak didapatkan pada anak autisme memerlukan penanganan yang spesifik, yakni: Ajari keterampilan berkomunikasi (non Verbal), tingkatkan keterampilan sosial (dengan peragaan), konsultasi neurologi untuk menyingkirkan adanya kejang lobus temporaslis dan sindrom hipotalamik, lingkungan harus aman,teratur, dan responsif, Rumah: bagimana penerimaan keluarga terhadap anak (saudara-saudara), catat tuntutan-tuntutan terhadap anak dan coba kurangi perubahan-perubahan rutinitas, pembatasan ruang juga penting, bantu anak-anak untuk melihat kontrol diri: stop, lihat, dengar, ajari deteksi bahaya, hendaknya keluarga mempunyai rencana terhadap apa yang diharapkan terhadap anak dirumah, pastikan anak mempunyai rutinitas sehari-hari yang teratur , kurangi suara dan keributan disekitar pasien, pertemuan rutin dengan anggota keluarga agar mengenali tanda-tanda resivitas.

Psikoterapi, dengan adanya pengetahuan tentang faktor biologi pada autisme, psikodinamika psikoterapi yang dilakukan pada anak yang lebih kecil, termasuk terapi bermain yang tidak tertrukstur sudah tidak sesuai lagi. Psikoterapi individu, baik dengan atau tanpa obat mungkin lebih sesuai pada mereka yang telah mempunyai fungsi lebih baik. Saat usia mereka meningkat, mungkin timbul perasaan cemas atau depresi karena mereka menyadari kelainan dan kesukaran dalam membina hubungan dengan orang

Terapi obat, pada sekelompok anak autisme dengan gejala-gejala seperti temperantrum, agresivitas dan stereotip, pemberian obat-obat yang sesuai dapat merupakan salah satu bagian dari program terapi komprehensif. Pemeriksaan yng lengkap dari kondisi fisik dan labor-obataatorium harus dilakukan sebelum memulai pemberian obat yang diperlukan.

Terapi Wicara, semua penyandang autisme akan mengalami gangguan bicara dan berbahasa, oleh sebab itu terapi wicara adalah sebuah keharusan bagi mereka yang perlu diperhatikan dari terapis yang menangani terapi wicara. Terutama orang tuanya harus bisamembedakan bahwa penderita autisme sangat berbeda dengan penderita dengan gangguan bicara saja

Terapi Okupasi, terapi ini diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan motori  halus seperti jari jari untuk melatih menulis

Terapi Khusus, pendidikan khusus adalah pendidikan yang berstruktur bagi para penyandang autisme , sistem satu guru adalah sangat penting oleh karena sulit memusatkan perhatian dalam kelas yang besar, dengan adanya perbaikan, maka secara bertahap dimasukkan ke dalam kelompok kecil sebelum masuk sekolah yang normal

Penulis: 
Boifrida Butar Butar Skep, Ners

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori