BURNOUT PADA PERAWAT JIWA

Perawat kesehatan jiwa dan terapis okupasi mengalami stres kerja [burnout] menempati angka tertinggi yaitu 54% dibandingkan psikolog,, dokter umum, residen dan pengasuh anak. Hasil studi mengindikasikan bahwa perawat-perawat di bangsal jiwa menunjukkan level yang lebih tinggi dibandingkan bekerja di bangsal internal, bedah, dan luka bakar. Burnout mengakibatkan penurunan kinerja, performa perawat jiwa dan peningkatan kesalahan memberikan asuhan keperawatan. Indikator yang paling nyata dari angka Kejadian yang Tidak Diharapkan [KTD] yang tinggi di Rumah Sakit. Kesalahan yang mengakibatkan mutu pelayanan rumah sakit menurun dan tingkat kepercayaan masyarakat juga berkurang.

Burnout adalah sindrom yang merupakan hasil dari stres beban kerja yang berlangsung lama, yang membawa pada penarikan diri dari organisasi. Perasaan tanpa harapan dan kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau kesulitan mengerjakan pekerjaan secara efektif. Perasaan negatif itu muncul secara perlahan-lahan. Perawat jiwa adalah perawat yang bekerja di area tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan mental pasien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada. Ruang lingkup perawat jiwa meliputi perawatan masalah gangguan jiwa, masalah psikososial [gelandangan psikotik, anak jalanan, penyalahgunaan napza, tindakan kekerasan social,dll], masalah perkembangan manusia harmonis dan peningkatan kualitas hidup[siklus hidup; menikah, usila, penyakit menahun, pemukiman sehat, pindah tempat tinggal].

Perawat di bangsal jiwa terindikasi mengalami kelelahan emosional, depersonalisasi, dan masalah prestasi pribadi yang lebih dominan. Kelelahan emosional  mengacu pada beban kerja berlebihan secara fisik dan emosional yang dihasilkan dari interaksi dengan pasien, rekan kerja dan pengguna layanan kesehatan. Kondisi kejiwaan pasien yang labil yang harus dihadapi dalam 7 jam dalam satu shift jam dinas menjadi salah satu faktor pencetus kelelahan emosional.  Kurangnya komunikasi interpersonal antara bawahan dengan atasan, dan sesama rekan kerja, misalnya hanya dalam konteks memberikan instruksi, antara perawat senior dan junior jarang berkomunikasi, sehingga situasi dalam lingkungan kerja dirasakan tidak menyenangkan dan menekan.

Depersonalisasi pada perawat jiwa mengacu pada kurangnya tanggapan dan sikap sinis dari sesama perawat dan pasien serta keluarga pasien. Self-awareness yang kurang dari pasien jiwa maupun kurangnya pemahaman kondisi pasien dari keluarga menyebabkan kurangnya penghargaan terhadap kinerja perawat. Pengurangan prestasi pribadi mengacu pada kecenderungan perawat untuk mengadopsi konsep diri negatif sebagai konsekuensi dari situasi tidak menguntungkan. Sebagai akumulasi dari kelelahan emosional dan depersonilasi mengakibatkan koping perawat lebih mengarah pada konsep koping negatif.

Burnout perlu diantisipasi agar kinerja perawat kembali ke performa yang prima dan mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien. Angka KTD dapat diminimalisir, kepuasan pelanggan dapat tercapai dan tingkat kepercayaan masyarakat dapat meningkat. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar burnout dapat teratasi. Hal pertama yang dilakukan adalah mengenali dan mengidentifikasi gejala burnout. Gejala-gejala dari burnout adalah ;

  1. Sikap pesimis, perasaan segala usaha dan usulan yang disampaikan akan gagal
  2. Ketidakmampuan berkonsentrasi.
  3. Tidak peduli terhadap pekerjaan dan tugas.
  4. Pencapaian yang stagnan
  5. Kurang tertarik pada aktivitas sosial
  6. Kesulitan dengan kebiasaan sehat seperti berolahraga, diet, dan tidur teratur.
  7. Merasa apapun yang dilakukan salah
  8. Mengabaikan kebutuhan sendiri (dan menempatkan kebutuhan orang lain terlebih dahulu).
  9. Kehilangan Nilai dan kepercayaan pribadi
  10. Mudah marah
  11. Kelelahan yang terus menerus
  12. Perasaan bosan
  13. Keluhan psikosomatik, seperti sakit kepala, pilek, dan masalah lainnya dengan sebab yang sulit dikenali.
  14. Penyangkalan perasaan

Tidak semua orang mampu mengidentifikasi tanda dan gejala dari burnout, perlu bantuan dari orang lain seperti teman, atau anggota keluarga yang dapat dipercaya.

Tindakan kedua adalah mengatasi efek burnout sesuai dengan kondisi dan minat individu perawat. Pertama adalah potong sumber dari burnout. Perawat jiwa yang jenuh dengan perawatan pasien dianjurkan untuk mengambil cuti, mencari suasana baru. Adanya masalah komunikasi dengan rekan kerja atau atasan harus sedapat mungkin teridentifikasi seawal mungkin agar masalah tidak berlarut-larut. Diperlukan analisis dan manajemen keperawatan yang sehat agar masalah komunikasi tidak terjadi. Depersonalisasi timbul sebagai akibat dari kurang profesionalnya perawat jiwa dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien maupun keluarga. Kurang profesionalnya asuhan keperawatan berasal dari ketidaktahuan dari perawat itu sendiri atau kurangnya penghargaan dari manajemen terhadap perawat sehingga perawat melakukan asuhan keperawatan sekadarnya. Diperlukan pelatihan dan pengulangan materi tentang pelayanan maupun keterampilan perawat secara terjadwal. Penghargaan dari manajemen keperawatan dapat dilakukan dengan penjenjangan karier dan reward/ punishment yang jelas.

Kedua adalah dengan melakukan hal di luar rutinitas. Kebosanan dan penurunan semangat terjadi karena perawat di bangsal jiwa tidak melakukan inovasi dalam memberikan asuhan ke pasien. Perawat terjebak dalam kondisi yang membuat tidak berkembang, dan kejenuhan baik dari perawat maupun pasien. Solusinya perawat jiwa harus proaktif untuk selalu mengupdate ilmu dengan rajin membaca dan mengikuti pelatihan yang relevan. Dari pihak manajemen juga memberikan fasilitas yang menunjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya perawat.

Burnout adalah kondisi kebosanan pada perawat jiwa yang mengakibatkan kesalahan pemberian asuhan keperawatan. Indikator yang jelas terlihat adalah dari angka KTD yang tinggi di rumah sakit. Untuk itu perlu penanganan dan pencegahan yang sesuai dengan kondisi perawat dan kondisi manajemen rumah sakit. Pencegahan terjadinya burnout atau pemulihan burnout segera setelah adanya indikasi, mencegah terjadinya komplikasi dan menjaga optimalnya pelayanan kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Desima, Riza.2013. Tingkat Stres Kerja Perawat dengan Perilaku Caring Perawat. Diakses pada 17 Januari 2018 pada jam 10.30 di http://download.portalgaruda.org/article.php?article=313914&val=278&titl...

Laras, Annisa, Anggun Resdasari P. 2016. Coping Terhadap Stress Kerja pada Perawat yang Pernah Menangani Pasien HIV/AIDS. diakses pada 17 Januari 2018 pada jam 10.30 di https://media.neliti.com/media/publications/62340-ID-coping-terhadap-str...

Lusiana, Dewi. 2010. Hubungan Stress Kerja dengan Tingkat Empati Perawat di Ruang Rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. diakses pada 17 Januari 2018 pada jam 10.15 di http://opac.say.ac.id/1708/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf

Irwan Unggul Widodo. 2017. Faktor Risiko dan Manajemen Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit: Sistematic Review. Diakses pada 17 Januari 2017 jam 10.30 di https://jurnal.ugm.ac.id/bkm/article/view/17377

Iwan Muhamad Ramdan. 2016. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Burnout pada Perawat Kesehatan Jiwa. diakses pada 17 Januari 2018 pada jam 10.00 di https://www.researchgate.net/publication/315941407_Analisis_Faktor_yang_Berhubungan_dengan_Burnout_pada_Perawat_Kesehatan_Jiwa.

 

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati,S.Kep.Ners
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori