PERAN KELUARGA KHUSUSNYA ORANG TUA DALAM MENGHINDARI BAHAYA NAPZA

NAPZA merupakan singkatan dari (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif lain) merupakan bahan/zat/obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mepengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan fungsi sosial. Hal ini terjadi disebabkan kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. 

Istilah NAPZA pada umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis dan sosial. NAPZA disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan dan pikiran.

Penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian obat-obatan atau zat-zat berbahaya lain dengan maksud bukan untuk tujuan pengobatan (medis) dan atau penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan serta dosis yang benar. Penggunaan NAPZA secara terus-menerus dan berlanjut serta tanpa dosis yang tepat akan mengakibatkan ketergantungan, dependensi, adiksi atau kecanduan.

Pada hakikatnya setiap zat atau obat yang jika dimasukan ke dalam tubuh organisme hidup dapat memberikan pengaruh pada satu atau lebih fungsi-fungsi dari organisme tersebut, termasuk ke dalam jenis obat-obatan atau zat terlarang. NAPZA semacam itu dapat menimbulkan efek khusus bila dipakai oleh manusia, baik dalam fungsi pemikiran, perasaan, dan perilaku.

Perubahan fungsional pada tahap awal mungkin dirasakan sebagai kenikmatan, akan tetapi dalam jangka panjang menjadi berbahaya, karena dapat menimbulkan ketergantungan. Beberapa ciri dari gejala ketergantungan yang tanpak pada penyalahguna NAPZA diantaranya:

1.Keinginan atau hasrat yang tak dapat ditahan untuk mendapatkan NAPZA bagi yang bersangkutan, dan ia akan menempuh apa pun untuk mendapatkannya.

2.Kecenderungan untuk menambah takaran atau dosis pemakaian yang semakin lama semakin banyak.

3.Ketergantungan psikologis, yaitu apabila tidak memperoleh NAPZA yang biasa dipakai akan menimbulkan perasaan gelisah dan cemas, bingung, depresi dan gejala penyimpangan mental lainnya.

4.Ketergantungan secara fisik, yaitu apabila tidak mendapatkan bahan NAPZA maka si pecandu tadi akan merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, yang biasanya dinamakan gejala putus obat (sakaw).

Ketergantungan yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan NAPZA memiliki tingkatan yang beragam, yang secara sederhana dapat dipisahkan menjadi tiga jenis ketergantungan:

1.Ketergantungan Primer, apabila mulai timbul rasa cemas dan depresi. Banyak terjadi pada para pemakai NAPZA tahap awal, dan terutama terdapat pada mereka-mereka yang berkepribadian labil.

2.Ketergantungan Simtomatis, munculnya sifat-sifat negatif dari para pengguna NAPZA, seperti adanya gejala sifat anti sosial (psikopat), kriminal dan mencari kesenangan diri semata-mata.

3.Ketergantungan Reaktif, ketergantungan yang didasari oleh rasa ingin tahu dan ingin mencoba. Banyak terjadi di kalangan generasi muda, baik karena dorongan rasa ingin tahu yang kemudian tidak dapat dihentikan ataupun akibat dorongan dari lingkungan pergaulan.

Salah satu tantangan baru bagi orang tua yang. anak nya meranjak dewasa adalah bahaya dari penyalahgunaan NAPZA. Keingintahuan dan rasa penasaran yang di luar kendali menjadi salah satu pencetus anak-anak menggunakan NAPZA. Berawal dari coba-coba berujung dengan kebiasaan dan ketergantungan. Ironisnya terkadang anak mengetahui bahaya yang di timbulkan dari NAPZA, namun mereka tetap menggunakanya bahkan menjadikan itu semua kebiasaan dan trend

Dalam hal ini peran keluarga khususnya orang tua dalam menghindari bahaya NAPZA sangat menentukan, karena orang tua adalah sebagai pengemban amanah dari Tuhan untuk memelihara, mendidik dan membesarkan anaknya sampai tumbuh dewasa menjadi manusia seutuhnya. Selain itu orangtua juga sebagai figur dan model bahkan sebagai orang yang paling istimewa buat anak-anaknya.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan dalam melakukan perlindungan bagi anggota keluarga terhadap bahaya penyalahgunaan NAPZA, yaitu dengan mengenalkan dan mengajari anak-anak tentang bahaya NAPZA sejak usia dini. Sejak usia dini dikenalkan juga bahwa penyalahgunaan NAPZA berakibat penjara.

Pengenalanya dapat dilakukan dengan menyesuaikan usia si buah hati. Seperti pada anak usia Play Group, orang tua perlu mengajarkan cara menghargai, menjaga, melindungi dan merawat tubuh sendiri; memberitahu barang yang ada di rumah yang sifatnya berbahaya seperi benda tajam, benda atau bahan yang mudah terbakar, bahan beracun dan lainlain. Pahamkan juga pada anak untuk dapat membedakan obat-obatan yang aman bagi dirinya namun harus dengan pengawasan orang tua misalnya, obat penurun demam, obat batuk khusus anak. Orang tua harus juga melatih dan membiasakan dirnya untuk melakukan komunikasi secara terbuka, pengambilan keputusan dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.

Sementara pada anak usia 4-6 tahun yaitu, orang tua diharapkan sudah membiasakan anak bergaul dengan teman sebayanya di luar rumah, memperbanyak kegiatan bersama anak baik di dalam rumah atau di luar rumah, melakukan komunikasi terbuka dan jujur dengan anak, memberikan cinta kasih yang tulus pada anak.

Langkah yang dapat di lakukan pada anak usia 7-9 tahun diantaranya orang tua hendaknya menjelaskan perihal masalah yang sering dihadapi anak seusianya, menjelaskan perbedaan antara obat yang baik dan bermanfaat jika dikonsumsi, serta obat yang bersifat buruk dan berbahaya bagi kesehatan jika dimakan.

Selanjutnya untuk anak usia 10-13 tahun, orang tua lebih mengetahui dan memahami masalah NAPZA dibandingkan dengan anak-anak, menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga hukum dan pelatihan-pelatihan, sehingga pengetahuan orang tua semakin luas, aktif mengikuti perkembangan jenis-jenis NAPZA yang beredar di pasaran. 

Langkah yang dapat dilakukan dalam menanggulangi anak yang terlibat penyalahgunaan NAPZA diantaranya orang tua harus mengetahui gejala-gejala dini anak yang menyalahgunakan NAPZA. Gejala yang muncul biasanya, anak mudah marah; membangkang terhadap nasehat orang tua di rumah dan guru sekolah; suka menjual barang-barang berharga milik sendiri atau orang lain; kadang-kadang suka memakai kaca mata hitam bukan pada waktu yang tepat; Suka berlama-lama di kamar mandi; Suka bolos sekolah, nilai raportnya turun; Sering berbohong; Kesehatannya menurun dan badannya menjadi kurus; Berpakaian sembarangan tidak terurus; Sering didatangi orang asing.

Bila mengetahui gejala-gejalanya yang ada pada anak, orang tua harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Mendiskusikan kenapa dan apa yang tengah terjadi di dalam diri si anak; Bertindak secara sportif dan sabar; Mencari bantuan seorang yang profesional dari dokter keluarga atau seseorang yang terlatih

Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh seorang ibu dari personal group Slank yaitu “Kaka dan Bimbim”. Ini merupakan salah satu contoh peran seorang ibu yang berhasil menanggulangi anak-anak yang kecanduan NAPZA, sehinggga kedua anaknya bisa sembuh dari pengaruh NAPZA, karena si ibu memiliki pengetahuan tentang NAPZA dan menganggap bahwa korban NAPZA bukan aib tapi musibah yang harus ditanggulangi dan dicari penyelesaiannya dalam diri si anak

1.Bantu mereka untuk berfikir positif tentang dirinya

Salah satu alasan anak-anak sering mengunakan obat agar merasa “tinggi” dan hebat tentang dirinya. Anak-anak mengalami rasa enak dan percaya diri, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal ini hanya bersifat sementara. Sehingga mereka menggunakan lagi dan lagi secara terus menerus, terlebih saat ada masalah atau hilangnya rasa percaya diri pada diri anak, sementara tanpa di sadari pengunaan dalam waktu panjang akan menimbulkan kematian. 

Maka penting bagi orang terdekat anak untuk membantu meningkatkan kepercayaan dirinya dengan mencoba melakukan hal-hal berikut:

a.Berilah pujian dan dorongan, ungkapan “terima kasih atas bantuannya” atau “kamu telah mencoba” dan seterusnya;

b.Tunjukan rasa sayang dengan mendekap memeluk dengan menyentuhnya;

c.Cintailah anak dengan sepenuh hati;

d.Luangkan waktu bersama anak;

e.Berikan tanggung jawab kepada anak;

f.Ajarkan anak untuk berkata “tidak” pada NAPZA;

2.Ajari mereka fakta-fakta tentang NAPZA

Sebagian anak-anak yang menggunakan NAPZA karena rasa penasaran sehingga coba-coba ingin tahu atau ingin merasakan, dan ada yang menggunakan karena bujukan. Maka penting bagi orang tua mendalami latar belakang anak menggunakan NAPZA. Dengan mengetahuinya akan memudahkan orang tua dalam mengenalkan adanya bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA, maka diharapkan setelah mereka memahami tidak pernah mencobanya lagi.

Hal penting yang mesti orang tua pahami dalam memecahkan masalah ini adalah:

1.Manfaatkan informasi yang ada dalam masyarakat untuk mengetahui tentang penyalahgunaan NAPZA. 

2.Ketahui fakta-fakta yang ada.

3.Diskusikan tentang obat terlarang secara jujur dan tanpa rasa marah.

4.Dengan anak yang lebih tua sampaikan ide, perasaan dan nilai-nilai yang dimiliki orang tua.

5.Terangkan pemikiran anda mengenai obat-obat terlarang namun lakukan tanpa mengurangi dan diikuti dengan contoh-contoh yang dapat dipertanggung jawabkan.

Buat peraturan bersama anak dengan konsekuen yang jelas. Jangan biasakan melindungi anak yang lari dari konsekuensi akibat dari tidak mematuhi aturan. Ajarkan disiplin yang konsisten dalam segala tindakan akan memberi kesan bahwa penyalahgunaan obat bukan hal yang bisa dibenarkan. Beri pemahaman dengan menganjurkan pilihan yang sehat dari pada menggunakan obat terlarang, seperti memberikan sarankan untuk berolahraga, kerajinan tangan, hobi dan bentuk rekreasi lainnya.

Memahami bahwa masalah penyalahgunaan NAPZA merupakan salah satu masalah nasional bangsa dan Negara, serta menghambat proses pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Orang tua yang merupakan sebagian dari bagian masyarakat sangat banyak memiliki peran dalam upaya pemberantasan ancaman terhadap generasi muda dari bahaya NAPZA.

Sumber: Alifia, Ummu. 2007. Apa Itu Narkotika Dan Napza?. PT. Bengawan Ilmu. Jl. Pleburan VIII/64 Semarang.

Penulis: 
Francisco Pinandita, S. Kep, Ners
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori