Definisi RM
Retardasi Mental (RM) merupakan keadaan dengan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). umumnya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren=jiwa) atau tuna mental.
Retardasi mental atau tunagrahita merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasan mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal. Keadaan perkembangan mental terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya gangguan keterampilan baik kecakapan ataupun skill selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, verbal, motorik, maupun sosial.
Beberapa hal yang harus diketahui dari RM:
1. RM bukan suatu penyakit walaupun RM merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif;
2. RM dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya;
3. Hasil bagi intelegensi (IQ=Intelegence Quotient) bukanlah merupakan satu-satunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya RM. Sebagai criteria dapat dipakai juga kemampuan untuk di didik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja;
4. Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang, sampai berat, dan sangat berat.
Etiologi
Penyebab RM diantaranya faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya, keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan pada faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak. Penyebab RM lain yaitu akibat infeksi dan intoksikasi, rudapaksa atau sebab fisiklain, gangguan metabolisme pertumbuhan atau gizi, penyakit otak yang nyata (postnatal), penyakit atau pengaruh pranatal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa yang berat, deprivasi psikososial.
Klasifikasi
Berdasarkan tingkat Intelligence Quotient (IQ) karakteristik RM dibedakan menjadi:
1. RM ringan (IQ=50–70, sekitar 85% dari orang yang terkena RM);
2. RM sedang (IQ=35-55, sekitar 10% orang yang terkena RM);
3. RM berat (IQ=20-40 , sebanyak 4% dari orang yang terkena RM);
4. RM berat sekali (IQ=20-25, sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena RM).
RM dalam PPDGJ I diklasifikasikan menjadi 4 tingkatan:
1. RM ringan (IQ 52-69: umur mental 8-12 tahun), karakteristik:
a. Usia prasekolah tidak tampak sebagai anak retardasi mental, tetapi terlambat dalam kemampuan berjalan, bicara, makan sendiri dan lain-lain.
b. Usia sekolah dapat melakukan keterampilan membaca dan aritmatik dengan pendidikan khusus, diarahkan pada kemampuan aktifitas sosial.
c. Usia dewasa melakukan keterampilan sosial dan vokasional, diperbolehkan menikah tidak dianjurkan memiliki anak, kemampuan psikomotor tidak berpengaruh kecuali koordinasi.
2. RM sedang (IQ 50-55: umur mental 3-7 tahun), karakteristik:
a. Usia prasekolah, kelambatan terlihat pada perkembangan motorik, terutama bicara, respon saat belajar dan perawatan diri.
b. Usia sekolah dapat mempelajari komunikasi sederhana, dasar kesehatan, perilaku aman serta keterampilan mulai sederhana, tidak ada kemampuan membaca dan berhitung.
c. Usia dewasa melakukan aktifitas latihan tertentu, berpartisipasi dalam rekreasi, dapat melakukan perjalanan sendiri ketempat yang dikenal, tidak biasa membiayai sendiri.
3. RM berat (IQ 20-25 s/d 35-40; umur mental <3 tahun), karakteristik:
a. Usia prasekolah kelambatan nyata pada perkembangan motorik, kemampuan komunikasi sedikit bahkan tidak ada, bias berespon dalam perawatan diri tingkat dasar seperti makan.
b. Usia sekolah gangguan spesifik dalam kemampuan berjalan, memahami sejumlah komunikasi atau berespon, membantu bila dilatih sistematis.
c. Usia dewasa melakukan kegiatan rutin dan aktivitas berulang, perlu arahan berkelanjutan dan protektif lingkungan, kemampuan bicara minimal, menggunakan gerak tubuh.
4. RM sangat berat (IQ 20-25: umur mental sepereti bayi), karakteristik:
a. Usia prasekolah retardasi mencolok fungsi sensorimotor minimal, butuh perawatan total.
b. Usia sekolah, kelambatan nyata disemua area berkembang, memperlihatkan respon emosional dasar, keterampilan latihan kaki, tangan dan rahang butuh pengawasan pribadi, usia mental bayi muda.
c. Usia dewasa mungkin biasa berjalan, butuh perawatan total biasanya diikuti dengan kelainan fisik.
Kelainan fisik dan gejala yang sering pada RM:
1. Kelainan pada mata
a. Katarak: Syndrom cockayne, Syndrom lowe, Galactosemia, Krelin, Rebela prenatal.
b. Bintik chorry-merah pada daerah macula: Mukulipidosis, Penyakit nicmann-pick, Penyakit tay-sachs.
c. Korioretinitis: Lues congenital, Penyakit sitomigaid virus, Rubella prenatal.
d. Kornea keruh: Syndrom hunter, Syndrom hurler.
e. Kejang.
f. Kejang umum tonik klonik: Defisiensi glikogen senthetase, Hiperlisinemia, Hipoglikemia terutama yang disertai glyeogen storage disease (I, III, IV, dan VI), Phenyi ketonuria, Syndrom melabsorbsi methinion dan lain-lain
2. Kejang pada masa neonatal: Arginosicconic Asiduria, Hiperammonemia I dan II, Laktik asidosis
3. Kelainan kulit: Bintik café-au-lait, Ataksia-telengiektasia, Syndrom blomm, Neurofibromatosis, Tuberous selerosis.
4. Kelainan rambut
a. Rambut rontok: Familial laktik asidosis dengan netrotising ensefalopati.
b. Rambut cepat memutih: Atrofi progresif serebral hemisfer, Ataksia telangi ektasia, Syndrom malabsorbsi menthionin.
c. Rambut halus: Hipotiroid, Malnutrisi.
5. Kepala: Mikrosefali, Makrosefali, Hidrosefalus, Mucopolisakaridase, Efusi subdural
6. Perawatan pendek: Kretin, Syndrom prader willi.
7. Distonia: Syndroma Hailer vorde-spaz
Ciri-Ciri Anak RM
1. Psikis
Kondisi psikis anak RM cenderung sulit untuk memusatkan perhatian,cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek, mudah bosan, mengantuk, kurangnya minat belajar dalam waktu yang lama, mudah frustasi yaitu menghentikan aktifitas atau pekerjaan jika tidak berhasil, mudah marah atau tersinggung dan tidak kooperatif, menarik diri karena malu dan tidak memiliki keberanian dalam berkomunikasi dengan orang lain.
2. Sosial
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain yang meliputi suatu proses berfikir, beremosi dan mengambil keputusan. Dalam pergaulan, anak RM tidak bisa mengurus dirinya sendiri, mereka bergantungan kepada orang lain. Hal ini disebabkan kemampuan intelektualnya terbatas, anak tuna grahita sering kali bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya. Anak RM mempunyai kepribadian yang kurang dinamis, mudah goyah, dan tidak memiliki pandangan luas. Anak RM juga mengalami kesulitan dalam memahami norma lingkungan sekitar, sehingga anak RM sering dianggap aneh oleh masyarakat karena tindakannya yang tidak sesuai dengan tingkat umurnya.
Pencegahan dan Pengobatan RM
Pencegahan dan pengobatan RM terdiri dari:
1. Pencegahan Primer
Dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (perawatan prenatal yang baik, kehamilan pada wanita adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak).
2. Pencegahan Sekunder
Meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan subdural, kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan kraniotomi, pada mikrosefali yang konginetal, operasi tidak menolong).
3. Pencegahan Tersier
Pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya di sekolah luar biasa. Untuk pemberian terapi obat dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau dektrukstif.
4. Konseling
Konseling diberikan kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmantis dengan tujuan anatara lain membantu mereka dalam mengatasi frustasi oleh karena mempunyai anak dengan RM. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak.
5. Latihan dan Pendidikan
a. Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.
b. Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau yang anti sosial.
c. Mengajarkan suatu keahlian (skill) agar anak itu dapat mencari nafkah kelak.
6. Latihan diberikan secara kronologis
a. Latihan rumah: pelajaran-pelajaran mengenai makan sendiri, berpakaian sendiri, kebersihan badan.
b. Latihan sekolah: terpenting dalam hal ini ialah perkembangan sosial.
c. Latihan teknis: diberikan sesuai dengan minat, jenis kelamin, dan kedudukan sosial.
d. Latihan moral: dari kecil anak harus diberitahukan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Agar anak mengerti, maka tiap-tiap pelanggaran disiplin perlu disertai dengan hukuman dan tiap perbuatan yang baik perlu disertai hadiah.
Dukungan Bagi Anak RM
1. Dukungan Keluarga
2. Dukungan Lingkungan Sekolah
3. Dukungan Masyarakat.
Sumber: Buku Panduan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa. 2016. Banjarmasin.
Prabowo, Eko. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro.

