INHALANSIA, SUMBER KETENANGAN PALSU PARA REMAJA

Semua manusia pasti menginginkan kedamaian dan ketenangan, tetapi tidak jarang ada yang salah dalam mendapatkannya. Ketika mendapatkan kesulitan atau masalah kita pasti ingin menyelesaikannya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan secara cepat ada masalah yang berlarut-larut sehingga menimbulkan rasa jengah bahkan depresi saat menghadapinya. Masalah akan tetap ada jika kita tidak menyelesaikannya. Beberapa diantaranya memilih jalan pintas dengan menghindari masalah.

Anak-anak keluarga broken home, korban perundungan yang tidak mendapatkan ketenangan di rumah mencari ketenangan di luar dengan berkumpul bersama teman. Dari kumpulan itu ada yang melakukan kegiatan negatif seperti ikut-ikutan teman ‘ngelem’. Dimulai cari coba-coba ngelem kemudian menjadi kecanduan. Ngelem adalah akitivitas menghidup lem yang mengandung bau  khas sehingga menimbulkan efek mabuk. Dengan harga yang lebih murah anak-anak remaja yang tersesat menjadi pencandu lem, bahkan ketika mereka tidak punya uang mereka nekat mengamen dan mencuri hanya untuk ngelem.

Apa yang membuat lem bisa menjadi candu untuk anak-anak remaja ini?

Lem mengandung Inhalansia  yang merupakan zat pelarut senyawa organik seperti keton, hidrokarbon aliphatic, haloalkana dan nitrit yang mudah  menguap. Jika terhirup oleh hidung maka akan diserap oleh tubuh dan menimbulkan reaksi candu melalui serangkaian proses neurotransmitter di otak dan dapat berpengaruh psikoaktif. 

Lem sangat mudah didapat dan harganya sangat terjangkau. Penggunaan lem asalnya adalah sebagai bahan perekat, tetapi bau yang cukup menyengat dimanfaatkan oleh para remaja tersesat untuk menapatkan efek  halusinasi.

Ada beberapa jenis Inhalansia di sekitar kita, seperti produk rumah tangga berbahan kimia yang mudah menguap. Jenis-jenis Inhalansia adalah yang sering kita temui, antaralain:

• Aerosol, contohnya pengharum ruangan, deodoran, hair spray, dan pilox.

• Gas, contohnya  freon, helium, dinitrogen oksida yang dalam botol wip krim, dan propana.

• Pelarut atau tiner , contohnya spidol, bensin, penghapus cat kuku, dan pengencer cat.

Gejala orang yang sudah kecanduan Inhalansia lem, adalah mata merah berair, nafas bau bahan kimia, hidung merah atau berair bahkan mimisan, kehilangan nafsu makan, mudah cemas, linglung seperti mabuk, menunjukkan gejala depresi dan yang pasti sangat tertarik pada sesuatu yang berbau menyengat seperti hair spay, kutek, pilox, bensin dan lem tentunya.

Inhalansia lem atau ngelem memiliki efek negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang. Satu hal yang pasti ngelem akan mengakibatkan penggunanya kecanduan.Beberapa efek ngelem yang akan muncul diantaranya, jantung yang berdetak lebih cepat, sakit kepala, gangguan berbicara, kesulitan berjalan lurus, mudah berhalusinasi, disorientasi, kehilangan kontrol diri, badan panas, penurunan tekanan darah, kesulitan bernafas, dan meningkatnya percaya diri serta perasaan tak terkalahkan.

Efek jangka panjang Inhalansia lem bisa sangat berbahaya untuk tubuh penggunanya, anatara lain:

• Gangguan pernapasan akut

Gangguan pernapasan yang daialami bisa sampai terjadi gagal pernapasan akut. Hal ini bisa terjadi karena zat yang dihirup merusak kemampuan  untuk bernapas sehingga mempengaruhi paru-paru. Oksigen yang harusnya tersebar ke seluruh tubuh jadi terganggu dan untuk kasus yang sangat parah bahkan bisa menyebabkan koma.

• Kerusakan pada otak

Lem mengandung zat naftalena dan toluena yang dapat merusak selubung mielin dan sistem saraf pada otak. Apabila dibiarkan bisa menyebabkan kerusakan otak dan masalah neurologis.

• Aritmia

Lem apabila dihirup terlalu kuat akan menyebabkan detak jantung yang tidak teratur atau aritmia. Ritme jantung yang tidak normal dapat menyebakan gagal jantung atau Sudden Sniffing Death Syndrome (SSDS).

 Pengobatan untuk pecandu Inhalansia lem

Pengobatan disesuaikan dengan masalahnya baik fisik maupun psikologi. Sebelum itu kita perlu melakukan beberapa tes. Untuk masalah fisik bisa melakukan general cek up sehingga bisa diketahui bagain tubuh mana saja yang bermasalah. Sedangakan untuk masalah psikologis  bagi yang sudah mengalami ketergantungan bisa berkonsultasi dengan psikiater dan bisa diarahkan ke rumah sakit jiwa untuk penanganan lebih lanjut dan dilakuan terapi untuk mengurangi efek ketergantungan.

 

Penulis: 
Nunu Nugraha Amd, Kep
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori