KURANGNYA PERHATIAN KELUARGA MEMPERBURUK KEADAAN ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ)

Hadir dan berkembangnya ilmu teknologi pada peradaban manusia diharapkan dapat mempermudah dan menunjang kehidupan. Berbagai cara dilakukan agar kehidupan menjadi mudah dengan adanya teknologi, diantaranya perkembangan informasi melalui media massa. Dengan adanya media massa yang mudah diakses menjadikan kehidupan manusia terbantu dengan adanya informasi-informasi yang diharapkan. Salah satu contoh mudahnya mendapatkan informasi tentang kesehatan. 

Kesehatan yang merupakan salah satu dasar penting dari kehidupan manusia, maka perlu dijaga dan di pelihara oleh setiap orang termasuk kesehatan jiwa. Sehingga orang berlomba-lomba mencari, menggali dan mempelajari tentang kesehatan, termasuk diperoleh dari media sosial. Kesehatan jiwa untuk sebagian orang gak terlalu diperhatikan, padahal tidak ada bedanya dengan kesehatan fisik. Untuk dikatan sehat seseorang harus mencakup keduanya fisik dan psikis atau sehat jiwa.

Istilah OGDJ atau orang dengan gangguan.jiwa tentunya sudah tidak asing di telinga kita, hal ini dikarenakan banyaknya pemberitaan atau penyampaian berita maupun informasi tentang penyakit kejiwaan di media sosial. Orang yang menderita penyakit jiwa semakin hari semakin meningkat, dengan berbagai latarbelakang penyebab. Terjadinya peningkatkan OGDJ tentunya menjadi kekawatiran kita bersama, terlebih bila ODGJ tidak di perhatikan oleh keluarganya. Mereka akan keluyuran dan terkadang bersikap agresif terhadap orang lain, sehingga meresahkan orang banyak.

Kehadiranya yang meresahkan membuat sebaian masyarakat merasa terganggu, sehingga melakukan tindakan yang menyakitkan bagi ODGJ, tindakan diskriminasi, pelecehan, pemasungan dan tindakan lainya yang tidak mengenakan bagi OGDJ. Sebenarnya OGDJ sendiri memerlukan perhatian dan pemahaman terutama bagi keluarganya. Terlebih ODGJ yang dilatar belakangi karena masalah perasaan, jelas sangat membutuhkan orang lain yang mengerti perasaanya.

Namun kenyataanya berlawanan banyak orang meresa seolah OGDJ menjadi beban bersama sehingga perlakuaan demi perlakuaan yang diterima justru menyakitkan mereka. Perlakuan buruk terkadang justru datang dari orang terdekat OGDJ, baik orang tua, anak, kakak dan adik, maupun keluarga terdekat lainya. Perlakuan yang sering muncul selalu menyangkut dengan hati kemudian fisik OGDJ. Diantaranya dengan melontarkan kata-kata yang menyakiti hati dan peresaan ODGJ, missal nya menyebut mereke tidak berguna, beban keluarga, orang gila dan lain sebagainya. Untuk fisik OGDJ terkadang mendapatkan pukulan, lemparan dan berujung pada pemasungan. Perlakuan seperti ini hampir seluruh OGDJ mendapatkannya perlakuan yang sama.

Bila dilihat sangat miris namun pada kenyataannya perlakuan tidak baik terhadap OGDJ tetap berlangsung hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya, namun kejadian demi kejadian terulang kembali. Lebih mirisnya yang melakukan keluarganya sendiri. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat meraka berlindung justru terkadang jadi neraka bagi mereka. Banyak OGDJ yang menjalani perawatan di Rumah Sakit dapat beraktivitas seperti biasa, namun ketika mereka pulang tidak butuh perawatan yang lama mereka harus kembali lagi ke Rumah Sakit.

Setelah dilakukan pengkajian terhadap OGDJ yang kembali ke Rumah Sakit dengan perawatan di Rumah sangat singkat ternyata faktor utamanya kurangnya perhatian keluarga terhadap perawatan OGDJ di Rumah. Ada sebagian keluarga memperlakukan OGDJ yang baru pulang dari Rumah Sakit menjadi berbeda bahkan menyisihkanya. Stigma buruk terhadap mereka muncul tanpa disadari oleh keluarga dan terkadang muncul di halayak umum sehingga, masyarakat pun ikut memberikan stigma buruk pada OGDJ.

Perlakuan yang dilakukan keluarga ini sebenarnya menjadi bahan baru yang akan memperburuk keadaan OGDJ. OGDJ yang baru pulang menjalani perawatan memerlukan pemulihan keadaan yang maksimal di Rumah. Diharapkan dengan bantuan dan dukungan keluarga pemulihannya akan maksimal, bahkan pasien sembuh total. Namun yang terjadi justru sebaliknya, wajar banyak OGDJ yang baru menjalani perawatan di Rumah harus dilarikan ke Rumah Sakit lagi dengan berbagai alasan. Alasan yang sering muncul OGDJ tidak minum obat, mengamuk, dan keluyuran.

Sementara keluarga dengan OGDJ sendiri terkadang tidak menyadari dengan apa yang menyebabkan OGDJ kambuh, mereka sibuk menyalahkan OGDJ nya tanpa tilik dirinya. Padahal terkadadng timbulnya kekambuhan diakibatkan kurang perhatianya keluarga terhadap OGDJ. Adanya pembiaran keluarga terhadap OGDJ yang baru menjalani perawatan di Rumah Sakit. OGDJ menjalani perawatan di Rumah secara mandiri, terkadang bukanya di perhatikan justru di intimidasi oleh keluarga.

Keadaan ini yang menjadikan OGDJ tidak mampu mengendalikan diri sehingga perawatan di Rumah tidak maksimal. Perilaku yang abnormanya muncul seperti teriak-teriak, marah-marah, melukai diri atau orang lain, rencana bunuh diri, pergi dari Rumah dan banyak perilaku lainya yang muncul. Berujung OGDJ di lakukan perawatan lagi di Rumah Sakit atau karena keputusasaan keluarga OGDJ dilakukan pemasungan.

Keluarga sering tidak menyadari bahwa awal mula OGDJ kambuh terkadang akibat perlakuan keluarga. Kurangnya perhatian dan ketidak pedulian keluarga dalam merawat OGDJ menjadi salah satu pencetusnya. Orang tanpa gangguan jiwa saja memerlukan perhatian terlebih mereka yang mengalami gangguan. Perhatian merupakan sebuah kepedulian yang sifatnya tidak tampak namun dapat dirasakan. Memang memerlukan kesabaran dan waktu lama untuk merawat orang dengan gangguan jiwa ditambah biaya yang tidak sedikit. Namun hal ini jangan jadi alasan untuk kita membiarkan atau menelantarkan mereka.

Ketidak pedulian keluarga justru akan memperburuk keadaan OGDJ, sehingga kejadian ini jelas akan menyulitkan keluarga sendiri. Terlebih jika OGDJ yang sering datang berulang menjalani perawatan di Rumah Sakit, merekan akan sulit untuk menjalani hidup. Beban mental OGDJ yang ada saja tidak mampu mereka kendalikan ditambah dengan beban baru dari sikap keluarga terhadap OGDJ, jelas hal ini akan memperburuk keadaan OGDJ. 

Wajar jika banyak OGDJ yang sering bolak-balik masuk Rumah Sakit (Kambuh), lebih memilih di Rumah Sakit ketimbang pulang kerumah. Namun bagi petugas Rumah Sakit hal ini menjadi catatan tersendiri, perawatan yang dilakukan seolah tidak ada gunanya. Terlebih edukasi terhadap keluarga selalu diberikan ketika kelurga menjemput OGDJ yang telah menjalani perawatan di Rumah Sakit.

Maka dari itu sangat penting adanya dukungan dan perhatian keluarga terhadap OGDJ dalam menjalani perawatan baik di Rumah Sakit terlebih di Rumah. ODGJ betuh perhatian dan dukungan kita bersama terutama keluarga terdekatnya. Perhatian ini lah yang sering luput, memang kelihatanya sepele namun dampaknya sangat luar biasa terutama bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Sumber: Wardani, N, D. 2018. Manajemen Terapi Gangguan Perilaku Pada Demensia. Medical Faculty of Diponegoro University.

Prabowo, Eko. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro.

Penulis: 
Doni Ismanto, S.Kep, Ners
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori