KETIKA LELAH BEREMPATI: COMPASSION FATIQUE

Memiliki profesi yang berkaitan membantu dan menyembuhkan oranglain dituntut selalu dalam kondisi prima agar dapat memberikan dampak positif bagi orang diberikan bantuan. Beberapa diantara profesi tersebut yaitu dokter, psikolog, perawat, konselor, dan lainnya hampir selalu bertemu dengan orang-orang yang mereka bantu atau yang biasa disebut pasien atau klien. Para profesi tersebut hampir setiap hari terpapar dengan pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan dari orang yang mereka bantu dan tentu saja hal ini berdampak pada kondisi psikologis para pemberian bantuan tersebut. Compassion Fatigue merupakan salah satu kondisi yang dapat terjadi pada seorang individu yang memberikan bantuan secara terus menerus dan terpapar dengan kondisi yang tidak menyenangkan dari klien/ pasien yang dibantu. Compassion fatigue merupakan suatu kondisi kelelahan secara fisik, emosi, spiritual yang mendalam yang diakibatkan oleh pekerjaan yang berkaitan dengan perawatan. Oleh Figley (Nelma, 2021) Compassion fatique adalah kondisi kelelahan dan disfungsi biologis, psikologis, dan sosial yang merupakan hasil dari paparan terhadap segala hal yang berkaitan dengan Compassion Stress. Dimana para pemberi rawatan / bantuan terpapar terhadap trauma yang dimiliki oleh oranglain, bukan terpapar secara langsung dengan kejadian traumatis. 

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mulyani, 2023 terhadap tenaga Kesehatan professional menemukan bahwa tenaga kesehatan professional dalam penelitian ini psikolog, konselor, guru bimbingan konseling dan perawat mengalami compassion fatigue dalam kategori sedang. Penelitian lain yang dilakukan oleh Nelma, 2021 juga menemukan hasil bahwa psikolog klinis juga mengalami compassion fatigue akibat dari terpapar secara terus menerus oleh penderitaan klien yang berdampak pada perubahan interaksi dengan orang disekitar dan klien yang ditangani.  Penelitian compassion Fatique pada perawat IGD yang dilakukan oleh Fitri, dkk 2023 mendapatkan hasil bahwa compassion fatique yang dialami perawat berdampak pada kelelahan yang berkepanjangan dan terjadinya penurunan kualitas layanan pada pasien. Tidak hanya itu, Compassion Fatique juga dapat memunculkan rasa apatis, khawatir yang berlebihan akan penderitaan orang lain, menyalahkan diri karena tidak dapat memberikan bantuan atau mencegah munculnya trauma, mudah mengalami kemarahan, merasa tidak berdaya, kesulitan makan atau tidur, kehilangan keyakinan diri, hingga membuat seseorang menjadi sulit berempati dengan orang yang menderita. Gejala ini tentunya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari bagi para profesional yang mengalaminya serta pekerjaan mereka dalam membantu orang lain.

Compassion Fatique berbeda dengan burn out. Compassion Fatique berakar dari kebutuhan untuk membantu orang lain dan terjadi kelelahan psikologis akibat terpapar penderitaan oranglain. Sedangkan burn out merupakan kondisi kelelahan emosi, mental, dan fisik serta perasaan ragu akan kompetensi dan nilai serta makna dari pekerjaan yang dilakukan.  Terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumberdaya untuk menyelesaikan tugasnya. Selain itu juga terdapat perbedaan ciri diantara keduanya. Terbentuknya Compassion fatique yang dialami oleh para professional tidak terjadi dengan sendirinya namun terdapat beberapa tahapan, yaitu: 

1. Empathic Ability

Merupakan kemampuan seseorang untuk dapat berempati dan berespon terhadap penderitaan orang lain. Kemampuan ini merupakan kunci dalam membantu orang lain yang sekaligus membuatnya rentan mengalami dampak dari membantu/merawat orang lain.

2. Empathic Response

Adalah sejauh mana seorang psikoterapis berupaya mengurangi penderitaan orang lain melalui pemahaman empatik. Seorang profesional akan mencoba memproyeksikan perasaan, pemikiran, dan perilakunya sesuai dengan perspektif klien. Di satu sisi hal ini merupakan keuntungan karena terjadi sesi terapeutik yang baik. Namun di sisi lain dapat memunculkan efek pada diri sendiri karena ikut mengalami apa yang dirasakan klien.

3. Residual Compassion Stress

Merupakan residu dari energi emosional akibat respon empatik ke klien dan juga tuntutan akan adanya tindakan yang berkelanjutan untuk mengurangi penderitaan klien. Tekanan ini memberikan dampak ke sistem pertahanan tubuh seseorang dan kualitas hidup secara umum. Kondisi ini dapat berkontribusi memunculkan compassion fatigue sehingga diperlukan beberapa tindakan untuk mengelolanya.

4. Compassion Fatigue

Kondisi yang terjadi saat seorang profesional tidak berhasil untuk mengelola tekanan. Risiko untuk sampai ke tahap ini akan semakin besar jika seorang profesional terpapar akan kondisi trauma yang dialami klien (secondary trauma) dalam jangka waktu yang panjang atau jika mereka kembali mengingat pengalaman traumatis yang terjadi di masa lalu. Seorang profesional juga dapat mengalami perubahan dalam hidup yang tidak diharapkan dan membutuhkan perhatian lebih. Kombinasi semua hal ini dapat membuat seorang profesional lebih mungkin mengalami compassion fatigue.

Untuk mencegah terjadinya compassion fatique, Rimer (2021) menjelaskan terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu: 

1. Buat batasan antara pekerjaan kantor dan rumah

Membuat batasan antara pekerjaan kantor dan rumah dapat membantu untuk beristirahat. Istirahat yang teratur dapat membuat kerja selanjutnya menjadi lebih baik. Menulis kembali kebaikan yang didapatkan saat bekerja, membuat jurnal kebersyukuran dapat membantu. Membicarakan masalah atau kekhawatiran yang dialami saat bekerja dapat membantu mengurangi compassion fatique yang terjadi. Selain itu mengambil cuti tahunan atapun melakukan aktivitas diluar pekerjaan juga bisa dilakukan, namun tidak menjadi masalah jika pun tetap membutuhkan dukungan dari pihak profesional.

2. Mengisi kembali energi setelah bekerja

Kita harus menyadari bahwa tubuh kita memiliki batasan sehingga istirahat menjadi hal yang sangat diperlukan. Ragam kompleksitas pekerjaan serta kehidupan pribadi cukup menguras tangki emosi yang dimiliki. Pertimbangkan untuk mengisi kembali energi tersebut dengan sesuatu yang perlu kita lakukan seperti mengatur ulang cuti tahunan atau cuti belajar atau mungkin mencari seseorang yang perlu diajak bicara.

3. Luangkan waktu dari pekerjaan

Terdapat berbagai cara mengatasai compassion fatique, mengidentifikasi dan mengakui bahwa diri mengalaminya adalah sebuah langkah yang penting. Pendekatan pribadi juga bisa dilakukan misalnya dengan mengambil cuti tahunan, melepaskan diri dari pekerjaan fokus pada hobi keluarga, liburan dapat dilakuan.

4. Utamakan kesejahteraan diri

Semakin baik kita dapat merawat diri semakin baik pula kita dalam pekerjaan, memberikan bantuan pada klien/pasien. Kelelahan yang dirasakan saat memberikan bantuan pada pasien/ klien, menandakan ada sesuatu yang harus dirubah dalam diri. Bersikap baik terhadap diri, dan realistis terhadap apa yang dicapai dapat membantu untuk pulih.

5. Latih untuk merawat diri

Sangat baik untuk mengetahui tanda dan respon terhadap compassion fatique. Beberapa cara untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan seperti mengambil waktu untuk beristirahat dari pekerjaan, melakukan hobby, melakukan rekreasi, dan menghabiskan waktu dengan teman diluar kantor.

Penulis  Mita Octarina, S.Psi., M.Psi

Psikolog di Klinik Psikologi, MHCU RSJD dr. Samsi Jacobalis Prov. Kep. Babel

 

Referensi :

Dewi, 2023. Mengenal Compassion Fatique: Dampak dari membantu oranglain.Buletin K-PIN.org. ISSN 2477-1686 Vol. 9 No. 24 Desember 2023.  

 

Fitri, dkk. 2023. Compassion fatigue pada perawat igd: a scoping review. Jurnal Keperawatan Volume 15 Nomor 3, September 2023 e-ISSN 2549-8118; p-ISSN 2085-1049 http://journal.stikeskendal.ac.id/index.php/Keperawatan

 

Mulyani Indah, 2023. Compassion Fatique pada tenaga Kesehatan professional.  Skripsi – Universitas gunadarma. 

 

Nelma Hapsarini, 2021. Gambaran Compassion Fatigue pada Psikolog Klinis. JP3SDM, Vol. 10. No. 2 (2021)

 

Rimmer, Abi, 2021. How can I manage compassion Fatique. The bmj | BMJ 2021;373:n1495 | doi: 10.1136/bmj.n1495

 

Penulis: 
Mita Octarina, M.Psi., Psi
Sumber: 
Psikolog Klinis Ahli Muda di UPTD RSJD dr. Samsi Jacobalis.

Artikel

12/05/2026 | Yunhar Nursaleh, S.Kep., Ners
30/04/2026 | Roesmala Dewi,AMK
25/04/2026 | Ns. Pamela K. Dewi., S.Kep
13/04/2026 | Veka Padila,S.Kep.,Ns
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori