Kebanyakan pasien yang memiliki rencana untuk melakukan bunuh diri, menunjukkan tanda-tanda peringatan bunuh diri, melalui apa yang mereka katakan atau lakukan. Setiap pasien dapat menunjukkan tanda peringatan yang berbeda-beda. Ada beberapa pasien yang menunjukkan ciri-ciri yang sangat jelas, seperti langsung mengatakan “saya mau bunuh diri”. Akan tetapi, beberapa pasien lainnya mungkin hanya menunjukkan tanda peringatan yang tidak dapat dikenali langsung, sehingga lebih sulit untuk dapat di prediksi. Dengan mengenali adanya tanda-tanda peringatan akan melakukan bunuh diri, maka petugas dapat dengan cepat menolong pasien yang sedang atau akan melakukan percobaan bunuh diri. Sehingga, penting bagi petugas pelayanan kesehatan untuk menjadi lebih peka terhadap pasien lain di sekitar kita, terutama apabila mereka mengalami sesuatu yang mendorong mereka untuk merencanakan bunuh diri.
A. Kenali Tanda – Tanda Resiko Bunuh Diri
1. Sering membicarakan kegelisahan yang dialaminya
2. Sering membicarakan tentang kematian
3. Merasa putus asa dan tidak memiliki gairah untuk hidup lagi
4. Mudah marah secara tiba-tiba
5. Kehilangan nafsu makan hingga berat badan berkurang
6. Mengalami gangguan insomnia dan kerap merasa sedih, cemas, atau stres
7. Menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan interaksi dengan orang lain
8. Kecanduan alkohol
9. Menyimpan dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba)
B. Factor Pemicu Terjadinya Resiko Bunuh Diri
1. Gangguan bipolar
Orang yang memilki gangguan bipolar akan mengalami perubahan suasana hati yang sangat signifikan. Seperti contoh , ada pasien yang mendadak sedih atau tidak bersemangat, padahal sebelumnya merasa gembira dan sangat antusias. Apabila hal tersebut dibiarkan tanpa pengobatan, maka pasien yang mengalami gangguan bipolar dapat berisiko tinggi untuk mencoba melakukan bunuh diri.
2. Depresi berat
Pasien yang mengalami depresi berat juga berisiko tinggi untuk menlakukan percobaan bunuh diri. Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa putus asa, tidak semangat menjalani aktivitas sehari-hari atau kehilangan minat dan motivasi hidup, suasana hati yang buruk,. Gejala tersebut bisa timbul tanpa adanya sebab yang jelas.
3. Anoreksia nervosa
Pada pasien yang mengalami anoreksia nervosa selalu merasa bahwa dirinya gemuk sehingga melakukan berbagai upaya untuk dapat menurunkan berat badan, termasuk mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan sehingga berisiko mengalami overdosis.
4. Borderline personality disorder (BPD)
Pasien yang mengalami Borderline personality disorder memiliki emosi yang tidak stabil dan terkadang sulit untuk melakukan sosialisasi dilingkungan sekitar. Pada pasien yang mengalami gangguan ini umumnya memiliki riwayat pelecehan seksual pada masa kecil dan memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri.
5. Skizofrenia
Pada pasien skizofrenia sering berhalusinasi, berperilaku aneh, dan memiliki waham atau percaya pada hal-hal yang terjadi pada dirinya, paranoid atau sulit percaya dengan orang lain,. Pasien gangguan kejiwaan ini lebih cenderung berisiko mengakhiri nyawanya dengan cara melakukan bunuh diri.
6. Gangguan adiksi
Gangguan adiksi merupakan jenis gangguan perilaku yang membuat pasien menjadi ketergantungan atau kecanduan dengan hal tertentu, seperti minuman beralkohol, rokok, atau narkoba. Selain itu, gangguan adiksi juga bisa berupa kecanduan terhadap aktivitas tertentu, seperti kecanduan bermain game, seks, belanja, atau berjudi. Pasien yang mengalami gangguan adiksi diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri.
C. Pecegahan Resiko Bunuh Diri
Dengan melakukan pencegahan resiko bunuh diri dimulai dari diri sendiri dengan menjadi pendengar yang baik tanpa memberikan stigma kepada kondisi mental pasien tersebut. Menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi orang lain atau pasien untuk bercerita bisa menyelamatkan nyawa seseorang tanpa kita sadari. Memberikan edukasi atau pembelajaran kepada masyarakat tentang kesadaran dalam pencegahan bunuh diri melalui media sosial juga menjadi upaya untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan penanganan yang tepat terhadap terjadinya resiko bunuh diri. Bertemu dengan psikolog atau psikiater ketika menunjukkan gejala depresi atau pikiran bunuh diri adalah langkah yang sangat tepat dan sebagai tanda masih memiliki semangat untuk hidup.
Daftar Pustaka
1. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/kenali-gejala-sese...
2. https://www.alodokter.com/pertolongan-pertama-mencegah-bunuh-diri
3. https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/tanda-peringatan-bunuh...

