Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah semakin berkembang akhir-akhir ini, namun perilaku untuk merokok masih banyak dilakukan, yang menjadi kecanduan paling umum di tatanan global. Di dunia, sekitar 1,1 miliar perokok dan lebih dari 8 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat merokok (Almasri et al., 2007). Merokok merupakan sumber berbagai macam penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker, dan penyakit periodontal, sebagai salah satu dari lima faktor risiko terbesar beban penyakit global (Collaborators, 2017; Zhang, 2021; Yun et al., 2018). Terdapat nikotin di dalam rokok yang menyebabkan ketergantungan. Nikotin menstimulasi reseptor asetilkolin pada reseptor dopamin. Nikotin menimbulkan perasaan senang yang membuat perokok ketagihan untuk terus merokok. Ketika perokok berusaha mengurangi atau mencoba berhenti merokok, hal tersebut menimbulkan gejala cemas dan gelisah. Semakin lama kandungan nikotin dalam tubuh, maka semakin kuat pula perilaku merokoknya, sehingga perokok semakin sulit meninggalkan rokok (Widysanto et al., 2021). Berhenti merokok merupakan hal yang kompleks dan tidak mudah, namun dengan kesadaran akan bahaya dari merokok maka diharapkan perilaku merokok menjadi berkurang bahkan berhenti.
Berbeda dari kecanduan lainnya, merokok selain menyebabkan gangguan kesehatan pada penghisapnya, juga memberikan dampak negatif terhadap orang disekitar perokok yang disebut dengan perokok pasif. Ditekankan bahwa konsekuensi kesehatan yang bersifat negatif dari merokok tidak hanya terjadi pada perokok, tetapi juga pada perokok pasif (Zil-a-Rubab &
Rahman, 2006; Wang et al., 2016). Akibat negatif ini menyebabkan orang disekitar perokok menjadi terkena dampak negatif, sehingga dibutuhkan kesadaran dari perokok untuk tidak melakukan perilaku merokoknya disekitar orang lain yang tidak merokok, bahkan diharapkan perilaku untuk merokok menjadi minimal bahkan tidak dilakukan lagi mengingat dampak yang sangat serius bagi kesehatan.
Banyak sekali dampak negatif dari kebiasaan merokok. Rongga mulut adalah yang pertama terpapar dengan asap rokok, di mana jaringan lunak dan keras bersentuhan langsung, menjadikannya area konfrontasi pertama (Zgliczynska, 2019). Merokok tembakau, terutama dalam bentuk rokok, telah terbukti menjadi faktor risiko yang signifikan terhadap periodontitis (penyakit gigi dan gusi) (Do et al., 2008). Selain plak, merokok telah diidentifikasi sebagai faktor risiko penting untuk penyakit gigi. Merokok juga memengaruhi prevalensi penyakit gigi, tingkat keparahan, progresi, dan respons terhadap pengobatan. Menurut penelitian epidemiologi, perokok memiliki risiko penyakit gigi dan mulut yang jauh lebih tinggi daripada bukan perokok, dan peningkatan risiko ini sebanding dengan durasi dan frekuensi merokok (Bergstorm, 2014; Eke et al., 2016). Berbagai masalah gingiva dan periodontal seperti gingivitis, hilangnya tulang alveolar, mobilitas gigi, lesi oral, ulserasi, halitosis, dan gigi bernoda lebih umum terjadi pada perokok (Zhu et al., 2019). Kesehatan mulut pada perokok lebih buruk dibandingkan dengan bukan perokok.
Menurut sebuah meta-analisis, paparan asap rokok di lingkungan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru secara signifikan (Sheng et al., 2018). Perilaku merokok juga telah dikaitkan dengan beberapa kanker mulut lainnya. Investigasi patologi klinik yang menunjukkan bahwa 29,4% orang dengan kasus kanker mulut yang telah terdiagnosis hanya mengunyah tembakau, 25,5% merokok, 42,2% mengunyah kedua jenis tembakau (asap dan bukan perokok), dan 2,9% tidak mengunyah tembakau. 83,3% dari mereka yang hanya mengunyah tembakau memiliki keganasan rongga mulut, dengan 6,7% memiliki keganasan orofaring dan hipofaring. Dari mereka yang merokok tembakau, 69,2% individu memiliki penyakit ini (Kumar, 2014). Banyak penyakit yang muncul akibat perilaku merokok seperti kanker, penyakit mulut, penyakit orofaring dan hipofaring, serta kerusakan sistem tubuh lainnya.
Kerugian akibat merokok dari segi kesehatan dan ekonomi menjadikan program berhenti merokok sebagai pilihan utama pengobatan bagi perokok. Merokok berperan sebagai faktor pencetus dalam penyebab berbagai penyakit. Menyadarkan banyak orang akan efek negatif dari merokok kemungkinan akan mengurangi jumlah perokok. Mereka yang merokok membutuhkan perawatan dan konseling yang tepat, dan telah terbukti berkali-kali bahwa banyak perokok mendapatkan manfaat dan menghentikan kebiasaan merokok mereka setelah sesi konseling dan bimbingan yang bermanfaat tersebut (Lancaster & Stead, 2017). Edukasi sangat penting bagi para perokok, seperti penjelasan tentang gejala fisik ketika masa pantang (penarikan) terhadap nikotin seperti mulut kering, pusing, mual dan gejala lainnya yang bersifat sementara. Pengurangan konsumsi jumlah batang rokok per hari secara perlahan-lahan hingga berhenti total dapat dilakukan dengan keinginan kuat dari perokok.
Ada beberapa pengembangan cara-cara baru dan perawatan serta terapi yang efektif untuk mengurangi perilaku merokok atau kecanduan terhadap nikotin, namun tentunya perubahan perilaku dari sebelumnya aktif merokok menjadi tidak lagi merokok dapat dipastikan adalah cara yang terbaik dalam menghindari dampak buruk dari kecanduan nikotin. Usaha-usaha di dunia untuk mengurangi kecanduan nikotin diantaranya seperti permen karet nikotin yang merupakan salah satu alternatif yang dikembangkan dan digunakan secara luas untuk mengurangi perilaku merokok (Maclaskey et al., 2022). Namun lebih baik lagi untuk mengunyah permen karet biasa agar benar-benar terhindar dari kecanduan nikotin. Kemudian ada patch nikotin (koyo nikotin), yang merupakan inovasi dalam dunia kesehatan untuk mengurangi konsumsi tembakau dan atau rokok (Scherer et al., 2022; Hajek et al., 2019). Diantara usaha-usaha untuk mengurangi kecanduan akan perilaku merokok tersebut, tetap usaha untuk berhenti total (perilaku berhenti merokok) adalah jalan terbaik untuk terhindar dari dampak berbahaya akibat rokok. Jadi dari beberapa terapi untuk mengurangi kecanduan nikotin dan usaha untuk menghentikan perilaku merokok, sikap dan perilaku individu perokok adalah yang paling penting. Individu harus sadar akan bahaya buruk bagi kesehatan akibat rokok, yang dampak buruk tersebut tidak hanya dialami oleh si perokok sendiri, namun juga harus dialami oleh orang di sekitar perokok.
DAFTAR PUSTAKA
Almasri, A.; Wisithphrom, K.; Windsor, L.J.; Olson, B. Nicotine and lipopolysaccharide affect cytokine expression from gingival f ibroblasts. J. Periodontol. 2007, 78, 533–541.
Bergstrom, J. Smoking rate and periodontal disease prevalence: 40-year trends in Sweden 1970–2010. J. Clin. Periodontol. 2014, 41, 952–957
Collaborators, G.R.F. Global, regional, and national comparative risk assessment of 84 behavioural, environmental and occupa tional, and metabolic risks or clusters of risks for 195 countries and territories, 1990–2017: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2017. Lancet 2018, 392, 1923.
Do, L.G.; Slade, G.D.; Roberts-Thomson, K.F.; Sanders, A.E. Smoking-attributable periodontal disease in the Australian adult population. J. Clin. Periodontol. 2008, 35, 398–404.
Eke, P.I.; Wei, L.; Thornton-Evans, G.O.; Borrell, L.N.; Borgnakke, W.S.; Dye, B.; Genco,
R.J. Risk indicators for periodontitis in US adults: NHANES 2009 to 2012. J. Periodontol. 2016, 87, 1174–1185
Hajek P, Phillips-Waller A, Przulj D, et al. A randomized trial of e-cigarettes versus nicotine- replacement therapy. New England Journal of Medicine. 2019;380(7):629-637.
Kumar, A.; Sharma, A.; Ahlawat, B.; Sharma, S. Site specific effect of tobacco addiction in upper aerodigestive tract tumors: A retrospective clinicopathological study. Sci. World J. 2014, 2014, 460194
Lancaster T, Stead LF: Individual behavioural counselling for smoking cessation . Cochrane Database Syst Rev. 2017, 3:CD001292. 10.1002/14651858.CD001292.pub3
Maclaskey D, Buchholz M, Hodges K, et al. Case Report: Delirium Associated with Excessive Consumption of Nicotine Gum. Journal of Clinical Psychopharmacology. 2022;42(3):327-329
Scherer G, Mütze J, Pluym N, et al. Assessment of nicotine delivery and uptake in users of various tobacco/nicotine products. Current Research in Toxicology. 2022;3:100067
Sheng, L.; Tu, J.-W.; Tian, J.-H.; Chen, H.-J.; Pan, C.-L.; Zhou, R.-Z. A meta-analysis of the relationship between environmental tobacco smoke and lung cancer risk of nonsmoker in China. Medicine 2018, 97, e11389.
Wang, R., Zhang, P., Lv, X., et al. "Association between passive smoking and mental distress in adult never-smokers: a cross-sectional study", BMJ Open, Vol.6, no.7, e011671, 2016. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-011671
Widysanto A, Combest FE, Dhakal A, Saadabadi A. In: Stat Pearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing 2021.
Yun, C.; Katchko, K.M.; Schallmo, M.S.; Jeong, S.; Yun, J.; Chen, C.H.; Weiner, J.A.; Park, C.; George, A.; Stupp, S.I.; et al. Aryl Hydrocarbon Receptor Antagonists Mitigate the Effects of Dioxin on Critical Cellular Functions in Differentiating Human Osteoblast-Like Cells. Int.
J. Mol. Sci. 2018, 19, 225.
Zhang, X.; Oluyomi, A.; Woodard, L.; Raza, S.A.; Adel Fahmideh, M.; El-Mubasher, O.; Byun, J.; Han, Y.; Amos, C.I.; Badr, H. Individual-Level Determinants of Lifestyle Behavioral Changes during COVID-19 Lockdown in the United States: Results of an Online Survey. Int.
J. Environ. Res. Public Health 2021, 18, 4364.
Zhu,J.; Shi, F.; Xu, G.; Li, N.; Li, J.; He, Y.; Yu, J. Conventional Cigarette and E-Cigarette Smoking among School Personnel in Shanghai, China: Prevalence and Determinants. Int. J. Environ. Res. Public Health 2019, 16, 3197.
Zgliczynska, M.; Szymusik, I.; Sierocinska, A.; Bajaka, A.; Rowniak, M.; Sochacki-Wojcicka, N.; Wielgos, M.; Kosinska-Kaczynska, K. Contraceptive Behaviors in Polish Women Aged 18–35—A Cross-Sectional Study. Int. J. Environ. Res. Public Health 2019, 16, 2723.
Zil-a-Rubab, Rahman, M. A. "Serum thiocyanate levels in smokers, passive smokers and never smokers", JPMA. The Journal of the Pakistan Medical Association, Vol.56, no.7, pp.323-326, 2006

