PENTINGYA PENGGUNAAN TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT UNTUK MEMBANGUN HUBUNGAN SALING PERCAYA PADA PASIEN ZKIZROFENIA

Dalam kehidupan sehari-hari baik disadari maupun tidak disadari keseluruhan aspek hidup manusia tidak terlepas dari yang namanya komunikasi. Komunikasi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Sukses dan gagalnya suatu komunikasi baik antar individu maupun kelompok dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tidak jarang ditemukan banyak individu yang tidak dapat berkomunikasi antar individu yang satu dengan individu yang lainnya. Disadari atau tidak, sebenarnya komunikasi yang sering kita lakukan adalah bagian dari proses sosial yang kita jalani. Dalam interaksi tentunya ada informasi yang terkandung didalamnya. Komunikasi merupakan kunci utama yang memiliki peranan penting dalam melaksanakan proses keperawatan. Terciptanya komunikasi antara perawat dengan pasien dalam dunia keperawatan dikenal dengan istilah komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik merupakan suatu proses komunikasi dalam membangun hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien dengan tujuan terapis guna untuk mencapai proses penyembuhan pasie.  Dengan kata lain, komunikasi menjadi penentu sukses tidaknya proses keperawatan itu sendiri. Proses keperawatan yang dilakukan tidaklah mudah. Dalam hal ini, penanganan pada pasien dengan gangguan kejiwaan.

A.Fungsi komunikasi terapeutik

1.Mengatasi persoalan

2.Mencegah adanya tindakan negative terhadap pertahanan diri pasien.

3.Mendorong kerjasama antara perawat dengan pasien. 

4.Menganjurkan kerjasama antara perawat dengan pasien.

5.Mempererat hubungan dan interaksi antara pasien dan perawat secara professional proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah pasien.

B.Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik

1.Perawat harus mampu mengenal dirinya sendiri sebelum perawat tersebut mengenal pasiennya. 

2.Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, percaya dan menghargai.

3.Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.

4.Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.

5.Perawat harus dapat menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi pasien.

6.Kejujuran dan terbuka, perawat sebelum melakukan tindakan keperawatan diharapkan selalu jujur untuk menyampaikan semua apa yang diberikan kepada pasien.

7.Mampu sebagai role model.

8.Alturisme diartikan sebagai tanpa mengharapkan imbalan atau jasa dan pamrih. 

9.Bertanggung jawab setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat harus bisa dipertanggung jawabkan baik lisan maupun tulisan

C.Teknik komunikasi terapeutik

1.Mendengarkan dengan penuh perhatian

2.Menunjukan penerimaan

3.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan

4.Mengulang ucapan pasien dengan kata-kata sendiri. 

5.Klarifikasi terjadi saat perawat berusaha menjelaskan dalam kata-kata mengenai ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh pasien

6.Fokus teknik ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan menjadi lebih spesifik dan mudah dimengerti.

7.Memberikan penghargaan

8.Memberi kesempatan klien untuk memulai pembicaraan

D.Tahapan Komunikasi Terapeutik

1.Fase Pra-interaksi ( Fase Persiapan ) 

Prainteraksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan pasien. Perawat diharapkan tidak memiliki prasangka buruk kepada pasien, karena mengganggu dalam hubungan saling percaya. Seorang perawat professional harus belajar peka terhadap kebutuhan-kebutuhan pasien agar pasien merasa senang dan merasa dihargai.

2.Fase Orientasi (Fase Perkenalan)

Tahap orientasi dimulai tepat pada saat tenaga medis dan pasien bertemu untuk pertama kalinya. Kesan pertama sangat menentukan jalannya proses keperawatan selanjutnya. Di tahap ini, tenaga kesehatan wajib memberikan salam terapeutik (menyebut nama pasien dengan sopan), memperkenalkan diri, serta menanyakan keluhan utama pasien. Selain perkenalan, elemen krusial dalam fase orientasi adalah menyepakati “kontrak” komunikasi. Kontrak ini mencakup topik apa yang akan dibahas, tujuan wawancara medis, durasi pertemuan, serta menjamin kerahasiaan identitas dan keluhan medis pasien. Jika pasien merasa aman dan mengetahui bahwa rahasianya dijaga dengan baik oleh kode etik kedokteran, maka rasa saling percaya (trust) akan terbangun kokoh.

3.Fase Kerja (Working Phase)

Tahap kerja merupakan inti hubungan perawat dengan pasien yang terkait erat dengan pelaksanaan komunikasi interpersonal. Perawat memfokuskan arah pembicaraan pada masalah khusus yaitu tentang keadaan pasien dan keluhan-keluhan pasien.

4.Tahap terminasi

Terminasi merupakan tahap akhir dalam komunikasi dan akhir dari pertemuan antara perawat dengan pasien.dalam tahap akhir ini, pasien sudah dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit, hendaknya perawat tetap memberikan semangat dan mengingatkan untuk tetap menjaga dan meningkatkan kesehatan pasien. Sehingga koumunikasi interpersonal perawat dengan pasien juga terjalin dengan baik.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.https://www.halodoc.com/artikel/pahami-urutan-tahapan-komunikasi-terapeu...

2.file:///C:/Users/ASUS/Downloads/KOMUNIKASI+TERAPEUTIK+DALAM+PENANGANAN+PASIEN+DENGAN+GANGGUAN+KEJIWAAN+hlm.+36-51%20(2).pdf

3.https://repository.usm.ac.id/files/skripsi/G31A/2017/G.331.17.0082/G.331...

4.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2043/penggunaan-teknik-komunika...

Penulis: 
TRI SUDRAJAT,S.Kep.,Ns.
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis